Menelusuri Jejak Penguasa Tatar Ukur

Apa yang pertama kali terlintas di benak Anda ketika mendengar kata “Dipati Ukur”? Nama jalan? Universitas Padjadjaran? Ataukah wilayah dengan banyak pedagang makanan murah meriah? Nama Dipati Ukur selama ini memang begitu melekat di benak masyarakat Jawa Barat. Coba saja tanya, siapa yang tidak tahu Dipati Ukur. Pasti banyak yang akan langsung menunjukan jalan menuju ke jalan Dipati Ukur, kawasan pendidikan di pusat Kota Bandung yang seringkali disingkat sebagai kawasan DU.  Tapi selain sebagai nama jalan, apa sebenarnya yang kita ketahui tentang sosok sang penguasa Tatar Ukur ini? Siapakah ia? Apa saja peninggalannya? Kisah-kisah tentangnya banyak yang terputus. Sementara jalinan sejarah Dipati Ukur dengan Bandung nyaris tak terbantahkan.

Dipati Ukur adalah seorang adipati di Tatar Ukur dan menjabat sebagai bupati wedana. Dipati Ukur berasal dari Kerajaan Jambu Karang yang berlokasi di Purbolinggo, Banyumas, Jawa Tengah. Nama aslinya adalah Raden Wangsanata. Ia keturunan Sunan Jambu Karang. Ketika Jambu Karang dipimpin oleh Adipati Cahyana, Mataram berhasil menundukan Jambu Karang di bawah kekuasaan Sutawijaya.

Putra Adipati Cahyana, Raden Wangsanata—Dipati Ukur—kemudian disingkirkan ke Tatar Ukur yang saat itu sedang diperintah oleh Adipati Ukur Agung. Wangsanata kemudian diasuh oleh Adipati Ukur Agung, diangkat sebagai anak, dijodohkan dengan Nyai Gedeng Ukur—putri Adipati Ukur Agung. Sampai akhirnya Wangsanata pun menggantikan posisi Adipati Ukur Agung dengan menjadi penguasa di Tatar Ukur. Tatar Ukur sendiri adalah wilayah Ukur di Priangan bagian selatan. Pusat pemerintahannya di Dayeuhkolot.

Mataram dikuasai oleh Sultan Agung ketika Dipati Ukur naik menjadi bupati wedana di Priangan. Sultan Agung berkeinginan untuk menyerang Banten dalam rangka ekspansi wilayah. Tetapi rencana ekspansi itu terhalang dengan adanya VOC yang mendiami Batavia, mereka sedang membuat benteng pertahanan. Maka dari itu pada 1628 Sultan Agung pun menugaskan Dipati Ukur untuk membantunya mengusir VOC dari Batavia. Dipati Ukur menggempur VOC ditemani oleh Bahureksa sebagai sekutu.

Namun sayangnya usaha ekspansi tersebut gagal karena baik Dipati Ukur mau pun Bahureksa kalah di tangan VOC. Kekalahan ini ternyata disebabkan adanya miskomunikasi antara Bahureksa dan Dipati Ukur. Setelah kalah, Dipati Ukur memutuskan untuk bersembunyi di Gunung Pongporang bersama pengikutnya. Dipati Ukur dan pengikutnya bermusyawarah tentang apa yang selanjutnya harus mereka lakukan. Tidak ditemui kata sepakat dari musyawarah itu. Dipati Ukur ingin menetap cukup lama di Pongporang, sementara pengikutnya tidak. Akhirnya mereka pun berpisah, pengikut Dipati Ukur pun kembali ke Mataram.

Sultan Agung yang mendengar kekalahan Bahureksa dan Dipati Ukur merasa kecewa. Apalagi dengan bersembunyinya Dipati Ukur membuat Sultan Agung beranggapan kalau Dipati Ukur telah lali dari tugas dan melakukan tindakan pengecut. Karena itulah Sultan Agung memerintahkan Bahureksa untuk menangkap Dipati Ukur. Dipati Ukur terkejut ketika didatangi pasukan Bahureksa. Ia terdesak karena kurangnya pasukan. Akhirnya ia dan pengikutnya berhasil lari dan bersembunyi di Gunung Lumbung, daerah Batulayang, Bandung.

Di Gunung Lumbung, Dipati Ukur menetap agak lama. Ia membuka sawah dan tegalan. Sampai akhirnya pimpinan pasukan Mataram, Tumenggung Narapaksa, berhasil menemukan mereka dan melakukan penyerangan yang membuat Dipati Ukur terdesak. Mereka kabur dan mengelabui pasukan Mataram dengan membangun makam palsu yang dianggap makam Dipati Ukur. Dipati Ukur akhirnya tinggal berpindah-pindah sampai akhirnya ia menyerahkan diri dan dijatuhi hukuman mati pada 1633.

Jejak Peninggalan Dipati Ukur

Jejak peninggalan Dipati Ukur banyak tersebar di berbagai wilayah di Jawa Barat. Khususnya di daerah Kabupaten Bandung yang memang daerah persembunyian Dipati Ukur ketika melarikan diri dari Mataram. Peninggalannya berupa bekas wilayah kekuasaannya, makam, senjata, piagam, patung, batu, lingga, dan lain-lain. Peninggalan pertama adalah lokasi ibu kota daerah Ukur yang terletak di Pebuntelan. Saat ini wilayah tersebut termasuk ke Desa Tenjonegara, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kedua, adalah benteng pertahanan yang terletak di Gunung Lumbung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Lalu ada juga lokasi makam yang dipercaya sebagai makam Dipati Ukur. Makam tersebut disebut Astana Luhur yang terletak di Desa Bojongmanggu, Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Menurut Lasmiyati Nizam, peneliti sejarah dari Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kota Bandung, makam Dipati Ukur tersebar di banyak tempat. Banyak gundukan tanah atau batu yang dipercaya sebagai lokasi dari makam Dipati Ukur. “Tapi menurut saya makam yang paling benar ada di Pameungpeuk ini. Karena perjuangan terakhir dia kan ada di sekitar sini juga, jadi masuk akal jika makamnya ada di sekitar sini,” jelas Lasmiyati.

Lokasi dengan jumlah peninggalan Dipati Ukur yang paling banyak adalah Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Menurut Endang Tarsa atau yang akrab disapa Abah Umar, Ketua Penilik Juru Pelihara Se-Kabupaten Bandung, Dipati Ukur pernah melakukan perjuangan melawan tentara Mataram cukup lama di Ciparay. “Dipati Ukur mengembara dan menetap di Ciparay ini menjelang beliau meninggal. Beliau membangun pemukiman yang letaknya di sebuah bukit. Sekarang namanya Bukit Cula ,” tutur Abah Umar.

Palagan Cula Negara

Palagan Bukit Cula (Culanagara) yang dahulu merupakan tempat petilasan Dipati Ukur ketika bergerilya melawan Mataram

Bukit Cula dahulu digunakan sebagai tempat pertahanan kekuasaan Dipati Ukur sebelum ia mengakhiri serangannya terhadap pasukan Mataram. Di Bukit Cula ini terdapat tempat menyimpan benda pusaka milik Dipati Ukur bernama Imah Leutik. Tempat ini kemudian disamarkan menjadi Gunung Leutik agar tidak terdeteksi musuh. Saat ini Gunung Leutik telah berubah menjadi sebuah desa bernama Desa Gunung Leutik. Selain Imah Leutik ada juga Imah Gede yang disebut sebagai kadaleman yang merupakan tempat tinggal Dipati Ukur. Kadaleman ini disamarkan sebagai Gunung Cula, yang sekarang dikenal dengan nama Bukit Cula.

Di Desa Gunung Leutik Dipati Ukur diabadikan dengan membuat namanya menjadi nama sebuah sungai. “Dipati Ukur kan seorang raden—nama aslinya Raden Wangsanata. Jadi Sungai Ciraden dinamakan sesuai dengan sebutan raden itu sendiri,” ujar Abah Umar.

Di sekitar Desa Gunung Leutik, terdapat beberapa peninggalan lain. Pertama ada undakan Batu Sindang Panon. Batu tersebut dijadikan tempat untuk mengatur strategi pasukan dalam pengamanan perang. Lalu ada Lapang Barjati yang dahulu digunakan untuk latihan ketentaraan pasukan Dipati Ukur. Daerah Cipaku dahulu digunakan sebagai tempat pendatang dari Kerajaan Timbanganten yang akan menggarap lahan sesudah ditinggalkan oleh Dipati Ukur ketika ia sudah menyerah terhadap Mataram. Barugbug adalah tempat menyimpan peralatan menggarap lahan. Dan Cebrek yang merupakan jalan yang selalu basah dan berlumpur. Dulunya dijadikan batas pertahanan wilayah Dipati Ukur.

Bukit Cula mempunyai tiga puncak; Puncak Ramogiling, Puncak Leuit Salawe Jajar, dan Puncak Bakiculah. Di Puncak Ramogiling terdapat Batu Korsi yang dahulunya merupakan tempat singgasana Dipati Ukur. Di depan Batu Korsi ini terdapat bekas telapak kaki yang dipercaya sebagai bekas telapak kaki Dipati Ukur oleh masyarakat setempat. Selain Batu Korsi, di puncak ini juga terdapat Batu Bandera. Batu Bandera ini adalah tempat untuk memberikan informasi kepada penguasa di kadaleman melalui simbol gerakan bendera.

Bukit Ramogiling

Bukit Ramogiling dilihat dari arah Desa Gunung Leutik, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung

Lalu di Puncak Leuit Salawe Jajar terdapat sebuah bangunan yang dijadikan tempat untuk menyimpan padi. Leuit tersebut berjumlah dua puluh lima jajar (baris) yang setiap jajarnya berisikan 25 lumbung (leuit). Saat ini sayangnya lokasi leuit tersebut sudah hilang dan hanya berupa rerimbunan di tepian bukit.

Kemudian puncak ketiga, Puncak Bakiculah terdapat kadaleman. Ada juga peninggalan berupa batu. Ada Batu Ramogiling yang adalah tempat pengamanan atau tempat persembunyian para pejuang Dipati Ukur. Menurut Abah Umar, tempat ini kemudian menjadi sebuah perkampungan yang terletak di bawah Bukit Cula. Namanya Kampung Pamupusan. “Bernama pamupusan karena ketika pasukan Dipati Ukur dikejar musuh dan bersembunyi di Kampung Pamupusan, musuh tidak akan dapat menemukannya,” jelas Lasmiyati. Lalu setelah Batu Ramogiling, ada juga Batu Palalangon yang adalah tempat bersantai bagi Dipati Ukur dan pengikutnya.

Selain Bukit Cula, terdapat juga daerah yang dijadikan tempat petilasan Dipati Ukur ketika berperang dengan Mataram. Diantaranya adalah Kampung Leo Madur yang dijadikan tempat beribadah kepada Yang Widhi. Ada Kampung Tenjonegara, Kampung Pangauban, dan Kampung Pabuntelan. Semua kampung ini terletak di daerah sekitar Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dipati Ukur menyamar jadi rakyat biasa untuk mengelabui tentara Mataram. Ia melucuti pakaian kebesaran kadaleman dan berganti baju ke baju rakyat biasa. “Bajunya itu lalu disimpan di galian tanah yang sekarang jadi situs sejarah namanya Situs Culanegara, di bukit Gunung Leutik. Di situs tersebut ada monumen juga bernama Palagan Culanegara,” jelas Abah Umar.

Menurut Abah Umar, di sela-sela baju kebesaran kadaleman milik Dipati Ukur, terdapat sebuah benda pusaka berupa duhung atau keris yang bernama culanegara. Nama keris tersebut lah yang diadaptasi menjadi nama daerah Culanegara. Saat ini duhung tersebut masih terkubur di dalam galian tanah bersama dengan baju kebesaran kadaleman. Duhung tersebut merupakan warisan terakhir dari Raja Pajajaran Prabu Surakencana Sang Nursia Mulya, sebagai sebuah amanat untuk menjaga dan mempertahankan tanjeur (pusaka) Pajajaran pasca runtuh.

Dipati Ukur sempat menjalankan amanat tersebut, sampai akhirnya dirinya menyerah setelah melakukan perlawanan gerilya yang cukup lama. Demi keselamatan anak buahnya, Dipati Ukur memutuskan untuk berdamai dan menyerahkan diri. Namun Sultan Agung tak bergeming dengan keputusan Dipati Ukur yang sudah menyerah tersebut, dan memutuskan untuk menjatuhi hukuman mati kepadanya. Dipati Ukur dihukum mati pada 1633.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s