Permata Tersembunyi Sumedang

 

Bicara tentang Sumedang, hal pertama yang terlintas di pikiran pastilah Tahu Sumedang. Penganan khas Sumedang itu memang luar biasa terkenal karena rasanya yang gurih dan berbeda dengan tahu lainnya. Tapi ternyata, Sumedang tidak hanya punya itu. Sumedang menyimpan ragam wisata alam nan memanjakan mata yang masih belum banyak dijamah orang. Salah satu kawasan wisata tersebut adalah Curug Gorobog—curug adalah bahasa Sunda dari air terjun. Curug empat tingkat ini berada dekat pusat kota Sumedang, membuatnya menjadi permata tersembunyi milik Sumedang.

Dari gerbang tua di depan, saya bisa membawa serta sepeda motor saya masuk. Tak perlu jauh-jauh berjalan. Karena sekitar 10 meter dari gerbang, sudah terlihat Curug Gorobog menjulang indah. Sepintas saya melihat, ukuran curug ini tak sangat besar atau sangat tinggi. Jika dibandingkan dengan curug lain yang pernah saya kunjungi, seperti Curug Cinulang atau Curug Cipongkor, curug ini yang paling kecil. Sempat saya merasa agak kecewa. Namun setelah mendekati curugnya, terlihat bahwa daya tarik utama curug ini bukanlah pada ukurannya.

Rasa sejuk dan tenang langsung terasa ketika saya mulai memasuki kompleks wisata Curug Gorobog yang terletak di daerah Citengah, Sumedang Selatan, Jawa Barat. Gemericik air yang terdengar menciptakan suasana nyaman. Dengan bau tanah basah yang khas membuat saya menarik napas begitu dalam, menikmati udara yang begitu segar. Setelah 2 jam duduk di atas sepeda motor, mendaki gunung dan melewati lembah, juga sawah dan perkebunan teh, akhirnya sampai juga saya di tempat tujuan. Di depan saya terlihat jelas berdiri kokoh, gerbang tua bertuliskan “Selamat Datang di Curug Gorobog”.

Letaknya yang bukan di hulu membuat Curug Gorobog tak memiliki ketinggian atau ukuran yang besar. Daya tarik utama Curug Gorobog justru terletak pada bentuknya yang unik. Ada empat tingkatan yang dimiliki curug ini. Tingkat paling bawah berada tepat di depan pintu masuk. Alirannya sangat besar, merupakan pembuangan terakhir air yang mengalir dari puncak curug. Paling nyaman dijadikan tempat berenang dan bermain air karena airnya cukup dalam.

dsc_0658

Foto: Syifa Nuri Khairunnisa

Lalu tingkat ketiga, agak sulit untuk diakses. Pengunjung harus mendaki sedikit jalanan kecil di sisi kiri curug. Bentuknya seperti tebing, namun sudah diberi pagar pembatas sehingga mempermudah pengunjung yang mendaki. Tingkat ketiga ini yang paling indah dan paling besar. Terdiri dari dua aliran, ada yang kecil di sisi kiri dan besar di sisi kanan. Tingkat ketiga ini tak memiliki kedalaman sedalam tingkat keempat. Namun ada banyak ornamen seperti pohon-pohon kecil di tengah aliran curug, atau bebatuan besar dan kecil yang bisa dijadikan tempat berfoto ria. Biasanya pengunjung duduk-duduk santai menikmati curug dari tingkat ketiga ini.

“Paling enak di sini sih. Soalnya paling luas, paling bagus juga itu alirannya ada dua dan ada aksen pohonnya buat foto,” ujar Andi, salah satu pengunjung yang berasal dari Sumedang. Saat saya berkunjung, tak hanya ada Andi dan pasangannya, Ratna. Terlihat juga beberapa orang, seperti dari satu komunitas yang sama, sedang berenang sambil berfoto ria di bawah aliran air terjun tingkat ketiga tersebut.

dsc_0675

Foto: Syifa Nuri Khairunnisa

“Ke sini karena penasaran aja, katanya bagus. Jaraknya juga cuman 1 jam dari rumah saya,” terang Fahmi, salah satu mahasiswa perguruan tinggi swasta yang ada di Bandung. Ia dan beberapa temannya sedang menjelajahi tempat wisata di Sumedang yang sekiranya belum dijamah banyak orang.

Satu tingkat diatas tingkat ketiga, ada tingkat kedua. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa sampai ke tingkatan ini. Jalurnya sangat terjal, licin, dan tak ada pengaman tidak seperti jalur pendakian ke tingkat ketiga. Terlihat dari bawah, aliran ini sangat indah. Hanya ada satu aliran, mirip seperti tingkat keempat namun jauh lebih kecil.

Terakhir adalah tingkat pertama. Tingkatan paling atas ini tidak bisa diakses oleh pengunjung. Jalurnya luar biasa terjal. Tak memungkinkan bagi pengunjung untuk mendaki ke sana. Alirannya hanya ada satu, dengan bentuk mirip seperti tingkat kedua namun jauh lebih kecil lagi.

Selain bentuknya yang unik, Curug Gorobog juga ternyata memiliki sejarah yang cukup menarik. Nama “Gorobog” sendiri ternyata berasal dari sang penemu, Aki Gorobog. “Namanya dari Aki Gorobog yang nemu curug ini. Makamnya juga ada di sini. Di tingkat paling atas curug tuh,” ujar Dodi, pengelola kawasan Curug Gorobog. Nama “Gorobog” selain berasal dari Aki Gorobog juga bisa berarti “kaget” dalam bahasa Sunda. Hal tersebut dikarenakan suara keras aliran air yang jatuh di Curug Gorobog ini bisa membuat kaget orang.

Keunikan Curug Gorobog ini sayangnya belum banyak diketahui oleh masyarakat Sumedang khususnya. Setiap harinya hanya sedikit saja orang yang berkunjung, hanya sekitar 10-15 orang per hari. Dodi menduga kalau sepinya Curug Gorobog adalah akibat kalah pamor dari beberapa curug lainnya yang lebih dulu terkenal. “Padahal kalau mau nilai ekonomis atau lokasi mah Curug Gorobog jelas menang. Biayanya murah cuma Rp5.000,- terus jaraknya dekat dari kota. Jalurnya juga enggak ada ngedaki yang ekstrem gitu,” tambah Dodi.

Untungnya semenjak beberapa bulan ke belakang, pengelolaan Curug Gorobog diambil alih oleh Dinas Perhutani Sumedang, kondisi perawatan Curug Gorobog sudah menjadi jauh lebih baik. “Ya sekarang mah alhamdulilah sudah jauh lebih tertata gitu. Pengunjung juga jadi lebih banyak yang ke sini dan lebih betah juga karena udah nyaman kondisinya,” tutup Dodi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran:

Keempat tingkat Curug Gorobog tampak dari kejauhan. Terlihat bahwa Curug Gorobog tampak seperti aliran alir segar di tengah kepungan tanaman hijau.

Foto: Syifa Nuri Khairunnisa

Tingkat pertama Curug Gorobog memiliki aliran yang cukup besar, dengan air yang cukup dalam. Sangat tepat dijadikan tempat berenang.

Foto: Syifa Nuri Khairunnisa

Tingkat ketiga Curug Gorobog, tingkat paling indah dan besar. Sering menjadi latar berfoto ria para pengunjung dengan dua alirannya yang unik dan elemen pohon juga batuan di tengah.

Foto: Syifa Nuri Khairunnisa

 

 

Sumber:

  1. Nama: Dodi Gunawan

Pekerjaan: pengelola Curug Gorobog

Nomor kontak: 081210805973

  1. Nama: Muhammad Andiansyah Hermawan

Pekerjaan: pekerja Bank

Nomor kontak: 081912190879

  1. Nama: Fahmi Al Farisi

Pekerjaan: mahasiswa

Nomor kontak: 089755543421

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s