Terbang Meraih Harapan di Nalaswara

Welcome to the city of hope, this is where we start. You walking to the city, no turning back. Hope is a feeling, that is in the heart. Nalaswara hope is everlasting. Nalaswara hope is in you. Nalaswara hope can reach the limit. Nalaswara show your hope to the world!

Sayup-sayup terdengar lagu berbahasa Inggris yang mengalun dari arah kampus Sekolah Bisnis Manajemen (SBM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat. Jam di tangan kiri saya menunjukan pukul 4 sore. Langit terlihat mendung, angin bertiup kencang. Mendengar alunan lagu yang sangat earcatching tersebut, saya mulai mempercepat langkah menuju antrian cukup panjang tepat di depan. Sampai juga saya, setelah menempuh perjalanan cukup jauh dari Jatinangor demi datang ke Nalaswara, festival garapan anak SBM ITB yang dilaksanakan pada 22 April 2017.

“Kalau tahun sebelumnya mungkin dikenal dengan nama Odyssey. Kemudian ada perubahan kurikulum pada tahun ini, membuat kita harus mengganti konsep secara keseluruhan. Kalau dulu acara hanya berfokus ke performance art, sekarang kita fokusnya ke wahana dan bazaar. Akhirnya kita bikin dengan konsep seperti itu dengan nama Nalaswara,” ujar Ketua Acara Nalaswara 2017 Ilham Pristaka Yudha yang diwawancarai di sela-sela waktu jeda festival.Nalaswara sendiri adalah acara festival yang digarap oleh mahasiswa angkatan 2016 SBM ITB. Acara yang berupa festival wahana dan bazaar ini merupakan bentuk tugas akhir dari mata kuliah management practice and leadership. Setiap tahunnya peserta mata kuliah diharuskan untuk membuat sebuah acara untuk tugas akhirnya.
Sesampainya di sana, saya diminta untuk menunjukkan QR Code yang sudah saya dapatkan sebelumnya dari pembelian tiket secara online. Setelahnya saya diberikan satu buah buku dan potongan tiket yang mirip paspor dan boarding pass pesawat, yang ternyata merupakan tiket masuknya. Dengan berbekal “paspor” dan “boarding pass” yang saya dapatkan, saya pun memasuki venue festival. Sekitar 10 meter dari pintu masuk terlihat janur kuning dengan gerbang yang sekilas terlihat seperti gerbang masuk chinatown. Dari sana, baru kemudian mulai terlihat ragam wahana dan lokasi festival Nalaswara 2017.

Nalaswara sendiri diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti “api abadi”. Api abadi yang ada akan membakar dan terus menghidupkan semangat pengunjung yang datang. Apalagi dengan tajuk besar Nalaswara yaitu “Hope”, terang Ilham, adanya acara ini tidak hanya akan memberikan kepuasan atas hiburan semata namun juga secara naluriah pengunjung akan membawa suatu arti. Api abadi—nalaswara—akan membakar semangat dan harapan—hope—dari pengunjung yang datang untuk terus bergerak meraih mimpinya.

Setelah melewati gerbang “chinatown”, ada satu hal yang langsung menarik perhatian saya. Di sebelah kiri gerbang, terlihat bambu saling bertumpuk membentuk sebuah lapangan seukuran lapangan bulu tangkis. Di ujung depan belakangnya membentuk sepetak kecil seperti gawang. Cukup lama saya mencerna, wahana permainan apa itu, karena rasa-rasanya saya pernah melihat sesuatu yang mirip dalam bentuk yang lebih kecil.

Hingga akhirnya ada beberapa orang yang berdatangan dan mulai mengambil posisi. Setiap orang berdiri di setiap bambu yang melintang di tengah wahana. Mereka mulai bermain, menendang bola untuk memasukkannya ke gawang, namun mereka tak berlari. Mereka hanya bergerak ke kanan dan kiri, untuk menghalau atau menendang bola. Seketika saya tahu. Mereka seperti sedang memainkan foozball dalam bentuk raksasa menggunakan orang asli! Terkesima dengan konsep permainan yang bernama Bal-Balan tersebut, mendorong saya untuk terus menjelajahi venue festival untuk mencari ragam wahana unik nan menarik yang ada.

Wahana Filosofis

Seluruh wahana dalam Nalaswara memang memiliki keunikannya masing-masing. Selain konsepnya yang unik, setiap wahana juga memiliki filosofi. Total ada 12 wahana yang tersebar di tiga kawasan festival. Pertama ada zona Luki, yang merupakan zona village, lalu Sola sebagai city, dan terakhir ada Tora sebagai town. Dengan tagline “Igniting Hope”, Nalaswara mengusung konsep City of Hope. Luki, Sola, dan Tora yang mewakili setiap proses manusia dalam mencapai harapannya. “Kita memupuk harapan kita ketika di village, mimpi kita masih sederhana. Kemudian akan berkembang di town, lalu akhirnya sampai di city, suatu titik di mana kita akan mencapai puncak kejayaan kita,” tutur Ilham.

Zona pertama ada Luki. Luki digambarkan sebagai sebuah desa di tengah hutan yang terisolasi dari dunia luar. Desa ini bernuansa gelap. Kehidupannya kental dengan kegiatan adat dan benda-benda yang disucikan akan membawa pengunjung pada suasana tradisional.

Wahana-wahana dalam zona Luki sendiri merepresentasikan gambaran dari village Luki. Ada dua jenis wahana di setiap zona; wahana berjalan dan wahana bermain. Terdapat dua wahana berjalan di zona Luki, yaitu Kampung Bagi dan Pohon Harapan. Kampung Bagi adalah wahana di mana pengunjung bisa saling berbagi dan menyebarkan kebaikan satu sama lain. Sementara Pohon Harapan adalah pohon yang dipercaya bisa mengabulkan harapan seseorang. Mereka hanya perlu menggantungkan secarik kertas berisi harapan mereka di batangnya. Sayangnya saya hanya bisa menemukan Pohon Harapan karena cukup sulit untuk berkeliling mencari wahana di tengah pengunjung yang cukup padat.

Lalu selain wahana berjalan, wahana bermain yang ada di zona Luki adalah Nalaswara Photobooth dan Bal-Balan. Nalaswara Photobooth adalah tempat berfoto para pengunjung di Nalaswara dengan latar belakang empat maskot Nalaswara yang mewakili setiap zona wilayah. Sedangkan Bal-Balan adalah arena permain bola yang mirip seperti foozball raksasa.

Ceria di Kota Sola

Setelah melewati zona Luki, bergeser sedikit ke arah barat terlihat gerbang masuk bertuliskan “Hotel Budipest” seketika pikiran saya melayang ke film The Budapest Hotel, film pemenang penghargaan Oscar yang sempat sangat terkenal beberapa waktu lalu. Gerbang unik ini membuka pintu masuk ke zona selanjutnya, yaitu zona Sola. Zona Sola sendiri adalah bentuk town, terletak di antara village dan city.

Ada empat wahana dalam zona ini. Wahana favorit saya adalah Kulino. Kulino adalah wahana escape game yang membawa pengunjung untuk menjelajahi pikiran dan memori. Kulino membantu kita untuk merefleksikan diri lewat ruangan penuh dengan kaca. Kemudian kita juga didorong untuk bisa menunjukkan emosi kita lewat ruangan penuh balon yang merepresentasikan masa kecil. Pengunjung diharuskan meletuskan balon tersebut, yang akan memunculkan warna-warni. Menunjukkan bahwa sebenarnya di balik emosi pasti ada sesuatu yang lebih menarik.

Selain Kulino, ada juga Mulas Rahaga yaitu wahana di mana pengunjung bisa membuat face painting menggunakan tinta glow in the dark. Lalu ada juga Hotel Sola, wahana puzzle berpikir misteri. Dan terakhir adalah Suara Santai, tempat di mana pengunjung bisa beristirahat dan bersantai sambil menyaksikan pertunjukan musik atau bahkan memainkan alat musik itu sendiri.

Suara Santai

Pengunjung bisa bersantai di Suara Santai, Sabtu (22/4). Selain beristirahat, pengunjung juga bisa menikmati penampilan musik. Disediakan ragam alat musik seperti keyboard, gitar, dan saxophone yang bisa dimainkan sendiri oleh para pengunjung.

Foto: Syifa Nuri Khairunnisa

Ketika sedang bersantai di Suara Santai, di sebelah saya terdengar suara ocehan hiperaktif anak kecil yang datang bersama ibu dan kakaknya. Samar-samar saya mencuri dengar percakapan mereka. Ternyata si anak sedang membahas betapa senangnya ia bisa datang ke sini dan bermain wahana. Penasaran, saya pun bergerak mendekati mereka.

Namanya Sinta. Anak umur enam tahun ini dengan gembira menyebut Kulino sebagai wahana favoritnya ketika saya tanya mengenai hal tersebut. “Kulino bagus. Soalnya ada kaca banyak terus balonnya bisa dipecahin!” ujarnya menggebu-gebu.

Hesti, ibu Sinta, mengaku ia mengajak kedua anaknya untuk liburan menghabiskan malam minggu. Ibu berumur 37 tahun yang berasal dari Sekeloa itu mendengar tentang Nalaswara dari tetangganya yang adalah anak ITB. “Murah tiketnya cuma 20 ribu. Lagian kasihan anak-anak malam minggu di rumah aja. Wahananya juga ternyata rame pisan. Anak-anak saya senang banget. Apalagi yang Kulino,” tutur Hesti.

Selain Hesti, Sinta, dan kakaknya Rina, banyak keluarga lain yang terlihat memadati kawasan Nalaswara. Tujuan Nalaswara memang universal. Tema besarnya, Hope, merepresentasikan bahwa harapan bisa muncul di segala usia. “Kita berharap bahwa kita bisa menunjukkan pada semua figur tersebut, terutama orangtua, bahwa mereka juga masih punya kesempatan untuk belajar mempunyai harapan,” jelas Ilham.

Kota Gemerlap Tora

Akhirnya setelah tuntas mencoba semua wahana di zona Sola, sampai juga saya di zona terakhir, zona Tora. Tora sendiri adalah pusat Nalaswara. Kota metropolitan yang berbalut cahaya lampu neon ini akan membawa pengunjung pada suasana gemerlap dan bebas.

Wahana di kawasan Tora yang paling sedikit di antara 2 zona lainnya. Hanya ada 3 wahana di sini. Pertama ada Dark Room Photobooth. Wahana ini menjadi yang paling pantas ditunggu. Untuk mencoba wahana ini, saya harus mengantri selama satu jam! Sesuai dengan namanya, Dark Room Photobooth adalah wahana berfoto ria yang ada di dalam ruangan gelap. Keunikan wahana ini selain berfoto di dalam ruangan gelap, pengunjung juga disediakan tiga macam latar foto yang berbeda. Latar belakangnya sendiri bertemakan pola galaksi yang akhir-akhir ini sedang digemari kalangan anak muda. Setiap foto yang dicetak dihargai Rp10.000,-.

Setelah puas bergaya dengan tiga kali jepretan, akhirnya saya pun keluar dari booth foto dan menuju panggung utama Nalaswara. Terdengar suara tembakan yang terasa seperti suasana perang sedang terjadi. Perlahan saya berjalan mendekati panggung, dan ternyata suara tersebut berasal dari penampilan drama tentang masa peperangan dulu. Ternyata sedang ada pertunjukan teater. Penampilnya adalah para panitia.

Semua hal yang ada di Nalaswara ini memang murni dilakukan oleh para panitia. Penampilan seni yang ada di panggung utama seperti nyanyian, tarian, drama teatrikal, sampai band dan alat musik, semuanya dilakukan oleh 359 mahasiswa angkatan 2016 SBM ITB. “Kita memang tidak diijinkan untuk mengundang artis, karena we are the stars. Dan sebagai bentuk dari visi SBM ITB yaitu greater good, kita mengadakan coaching oleh para ahli. Gimana caranya agar panitia enggak cuma capek kerja aja, tapi dapat ilmu juga,” jelas Ilham.

Main Stage

Panitia sedang menari diiringi oleh lagu tema Nalaswara setelah jeda istirahat berlangsung, Sabtu (22/4). Di mainstage Nalaswara ini tempat pusatnya penampilan berlangsung dari mulai nyanyian, tarian, hingga drama teater.

Foto: Syifa Nuri Khairunnisa

Selain penampilan teater drama tadi, ada juga penampilan band, drum perkusi, dan lain-lain. Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Acara hampir selesai tapi saya belum menemukan dua wahana lainnya di zona Tora yaitu Nyali dan Chatraciho yang merupakan wahana berjalan. Dibutuhkan keburuntungan untuk menemukan kedua wahana tersebut, begitu kata Ilham sebelumnya.

Untungnya keberuntungan sedikit berpihak pada saya. Ketika saya sedang berada di tepi zona Tora, di kejauhan terlihat beberapa sosok dengan kostum unik. Dua orang dengan kostum malaikat putih, dan dua lainnya terlihat seperti memakai pakaian malaikat maut. Keempatnya membawa peralatan memungut sampah berupa kereta dorong. Seketika saya sadar, mereka adalah Chatraciho! Chatraciho sendiri adalah pengawas kebersihan Nalaswara yang selalu berkeliling untuk mengambil sampah serta menegur mereka yang terpergok membuang sampah sembarangan.

Akhirnya setelah puas memperhatikan segala gerak-gerik Chatraciho, saya pun bergegas berjalan keluar. Rasa puas dan senang benar-benar terasa setelah berkeliling kota harapan nan ajaib ini. Saya pun berjalan pulang, keluar, kembali melewati gerbang “chinatown” lucu. Meninggalkan Nalaswara, tempat di mana saya bisa terbang meraih harapan saya lewat menjelajahi Luki, Sola, dan Tora.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s