Beauty and The Beast: Remake Nostalgia nan Cantik

 

11

Remake saat ini menjadi salah satu trend yang sedang berkembang di Hollywood. Salah satu perusahaan film yang menganut trend ini adalah Disney. Berbagai macam film animasi Disney yang sempat jadi jawara di hati masyarakat pun mulai dibuat remake nya.

Berawal di periode 1990-an, Disney mulai melebarkan sayap dengan memproduksi banyak hal selain film animasi. Ada produksi Broadway, serial TV spinoff, sampai akhirnya pada periode 2000-an mulai muncul berbagai remake animasi Disney klasik. Diawali dengan munculnya Alice in The Wonderland-nya Tim Burton yang luar biasa menarik hati. Kesuksesan kembalinya Alice kemudian mendorong munculnya Mirror Mirror yang mengambil dasar cerita dari Snow White and The Seven Dwarfs.

Daftar film animasi yang masuk dapur Hollywood kembali pun semakin memanjang. Kali ini di tahun 2014, Cinderella muncul dengan mendapuk Lily James, artis pendatang baru, untuk menjadi sang karakter legendaris. Ada juga The Jungle Book-nya Jon Favreu yang berhasil mendapatkan respon sangat positif hampir dari seluruh kritikus film dunia.

Semua film remake tersebut memang luar biasa. Berhasil mengobati kerinduan kita akan sosok princess yang rupawan, mencari sang cinta sejati. Tapi buat saya masih belum ada yang bisa membuat saya terpesona dan ingin ikut menari ketika menontonnya. Sampai akhirnya pendapat saya itu runtuh seruntuh-runtuhnya dengan dirilisnya Beauty and The Beast.

Remake dari musikal mewah legendaris yang pertama kali rilis pada 1991 ini bagi saya menjadi remake tercantik yang pernah saya tonton. Beauty and The Beast versi live action ini benar-benar menjadi interpretasi sempurna dari tale as old as time—kisah setua waktu. Beauty and The Beast sukses membuat hati saya terasa hangat, mengingat nostalgia saat pertama kali menonton versi animasinya.

Disutradarai oleh Bill Condon, orang yang sama di balik keempat film Twilight Saga, sempat membuat saya ragu. Saya bukan orang yang benar-benar menggemari karya-karya Condon. Apalagi dengan ungkapan awal bahwa ia tak akan mengubah hampir suatu apapun dari cerita aslinya membuat saya agak ragu apakah Beauty and The Beast versinya akan bisa minimal sama menakjubkannya dengan versi aslinya.

Namun kenyataannya, Condon berhasil menampar balik saya dengan menyuguhkan sebuah remake luar biasa, dengan visual yang luar biasa menakjubkan. Pertama kali melihatnya yang langsung terbersit di benar saya adalah, film ini benar-benar karya Condon. Tone warna, angle pengambilan gambar, bahkan hingga CGI pun semuanya ciri khas Condon. Tone warna yang sedikit pucat dan serigala yang mirip dengan rupa kawanan Jacob Black membuat saya salut dengan Condon yang memiliki ciri khas tersendiri hingga berhasil membuat orang aware dengan hasil kerjanya.

Visual yang ia hasilkan pun luar biasa menakjubkan. Menggunakan tone warna yang pucat malah membuat semuanya semakin indah. Efek bling-bling nya ada, tak berlebihan. Visual terlihat ajaib. Benar-benar membuat saya ingin ikut berada di dalamnya. Entah mengapa semua yang Condon lakukan dalam visualisasinya berhasil membawa Beauty and The Beast jauh lebih hidup.

Dari segi cerita pun Condon hampir tak merubahnya dari versi aslinya. Semua hal manis dalam versi animasi bisa saya temukan di sini. Semua lagunya yang indah, plot cerita yang sederhana, masih sama persis seperti yang saya saksikan lebih dari 1 dekade lalu. Keputusan yang sempat meragukan ini diganjar habis oleh Condon yang berhasil membawakannya dengan komposisi yang pas.

Beberapa kali saya ikut mendendangkan lagu soundtrack yang sudah saya ingat di luar kepala. Misalnya di lagu Be Our Guest yang dinyanyikan oleh Lumiere membuat saya tak tahan untuk tak ikut menyanyikannya. Belum lagi ketika adegan waltz di ballroom legendaris yang diiringi oleh lagu klasik Beauty and The Beast yang dinyanyikan Mrs. Potts (Emma Thompson). Benar-benar membuat hati saya hangat.

Keberhasilan Beauty and The Beast dalam membuat hati saya bernostalgia dengan liarnya tak lepas dari pemeran utamanya yang buat saya berhasil menghidupkan kembali karakter Belle dengan sangat baik. Emma Watson (terkenal lewat kedelapan film Harry Potter) yang didapuk menjadi Belle sukses mengangkat karakter Belle menjadi 1000% lebih rupawan dari versi animasinya.

13

Selain Emma, satu karakter ikonik lainnya yang buat saya sangat berhasil adalah Gaston. Karakter pria berotot yang sombong ini dibawakan dengan sangat pas oleh Luke Evans (terkenal lewat The Girl on Train atau Fast 6). Luke Evans yang mempunyai rupa fisik cukup mirip dengan Gaston membuat karakter Gaston menjadi sangat kuat. Ia punya daya pikat menawan yang membuat karakternya sulit untuk kita benci. Luke Evans punya kharisma yang luar biasa kuat.

16.jpg

Selain peran-peran signifikan, beberapa peran pelengkap lainnya juga sempat saya ragukan bisa tampil baik. Misalnya karakter Lumiere yang disuarakan oleh Ewan McGregor. Juga Cogsworth yang diperankan oleh Ian McKellen. Kedua karakter ini adalah karakter dengan ciri khas suara aksen Perancis yang sangat kental. Apalagi kedua karakter ni punya peran yang cukup penting dalam keberlangsungan cerita ini, sehingga yang memerankannya pun diharuskan bisa mengeinterpretasikan ciri khas dari masing-masing karakter. Lumiere yang santai tapi lucu, dan Cogsworth yang tegas namun penakut.

Namun nyatanya kekhawatiran saya lagi-lagi tak terbukti. Baik Ewan maupun Ian berhasil menunaikan tugasnya dengan sangat baik. Apalagi ketika masuk ke adegan Be Our Guest. Lagu dengan nada menyenangkan ini sukses menghentakkan kaki saya dengan semangat mengikuti koreografi yang juga sangat indah.

Bicara tentang koreografi, buat saya koreografinya luar biasa menakjubkan. Beberapa gerakan dibuat sama dengan versi aslinya, dengan beberapa gerakan tambahan lain. Condon dengan bijak menambahkan dan mengubah sedikit gerakan, khususnya ketika adegan ikonik waltz ballroom antara Belle dan Beast. Condon berhasil membuat semua koreografi yang ada terasa begitu mengalir, seakan mengajak penonton untuk ikut sekadar menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

14

Namun seperti biasa, dalam film apapun selalu ada keretakan yang muncul. Versi live action ini memiliki beberapa kekurangan yang cukup mengganggu, walaupun tak signifikan. Dengan durasi yang jauh lebih lama dari versi aslinya—versi ini sekitar 45 menit lebih lama—membuatnya terasa terlalu bertele-tele.

Plot utamanya memang tetap sama. Maurice (Kevin Kline), ayah Belle yang dipenjara oleh Beast di dalam istananya karena mencabut sebatang mawar dari taman Beast. Kemudian Belle yang tak tega ayahnya dipenjara pun menawarkan diri untuk menggantikannya. Sementara itu, berbagai perabotan rumah yang terkena kutukan berusaha untuk membuat pasangan unik tersebut untuk saling jatuh cinta, agar mereka dan Beast bisa menjadi manusia kembali.

Sang penulis naskah, Stephen Chbosky dan Evan Spiliotopoulos berusaha untuk mengisi plot holes yang tertinggal dari versi animasinya. *spoiler alert*  Misalnya saja adegan ketika Belle menciptakan mesin cuci versi primitif. Atau ketika ia dan Beast mengunjungi Paris melihat kembali kejadian yang menimpa ibu Belle dengan menggunakan buku ajaib. Atau saat Maurice yang sempat membawa Gaston mendekati istana, namun akhirnya ia malah diikat dan ditinggalkan untuk dimangsa serigala.

Adegan-adegan penambal plot holes tersebut awalnya mungkin ditambahkan dalam rangka membantu penonton untuk bisa memahami lebih baik apa yang sebenarnya terjadi secara keseluruhan. Suatu hal yang memang hampir tak pernah kita temukan dalam film animasi. Namun sayangnya kali ini tak berhasil. Usaha duo penulis ini malah terkesan tak penting dan hanya menambah durasi saja. Adegan-adegan tersebut sama sekali tak membantu jalannya cerita utama.

Belum lagi mengecewakannya penampilan pemeran utama, yaitu Beast sendiri. Beast yang diperankan oleh Dan Stevens terasa sangat monoton. Tak terasa aura kharismatik dari Stevens. Ia terasa sangat kaku dan tak bisa memunculkan chemistry yang dibutuhkan antara ia dan Belle. Hubungan keduanya terasa kaku. Bahkan jika dilihat kembali, dengan hubungan yang terlihat dalam film, agak sulit mempercayai bahwa Belle dan Beast saling mencintai.

15

Penampilan Stevens sebagai Beast hanya terbantu dengan mata birunya yang jernih. Matanya cukup mampu menunjukkan apa yang sebenarnya sedang Beast rasakan atau ingin utarakan. Namun selebihnya, sangat lemah. Dan Stevens memang tampan, punya karakter yang kuat. Buktinya saya pasti akan bisa mengenalinya langsung Beast adalah Dan Stevens, jika saya tak tahu awalnya. Tapi ia tak punya kharisma seorang pangeran. Kharismanya bahkan kalah dari Luke Evans.

Terlepas dari teknisnya, Beauty and The Beast sempat memunculkan reaksi kurang enak ketika rumornya akan ada adegan gay yang melibatkan LeFou. Hal ini sontak menimbulkan pro kontra di berbagai lapisan masyarakat. Ketika saya menonton Beauty and The Beast, jujur saya sempat agak mencari adegan tersebut. Namun sampai akhir saya tak menemukan adegan gay apapun yang mengganggu. Yang ada hanya adegan LeFou yang terlihat flirting dengan seorang pria yang terlihat seperti transeksual. Mereka pun berdansa sedikit sebelum akhirnya adegan kembali masuk ke dansa Belle dan Beast.

Setelah itu saya berpikir, masa hanya adegan itu saja bikin heboh. Apa mungkin adegan gay tersebut sudah dihapus oleh badan sensor film? Tapi rasanya tak mungkin. Selama film diputar saya tak merasa adegan apapun terlihat aneh seperti habis dipotong. Lalu setelah bertanya kesana kemari dan melakukan riset, ternyata adegan gay yang dimaksud adalah adegan LeFou yang flirting itu! Sontak saya kaget. Memang apanya yang tak senonoh sampai menimbulkan pro kontra. Jadi sebenarnya tak ada adegan tertentu yang mengharuskan orang tua melarang anaknya menonton film ini kok.

Intinya sih, walaupun ada beberapa keretakan yang terjadi, hal tersebut tetap tak bisa mengurangi ketakjuban saya menyaksikan kembali tontonan masa kecil saya yang dibalut dalam live action indah memanjakan mata. Dengan berhasil menghidupkan kembali dunia dongeng, Beauty and The Beast versi baru ini benar-benar bisa mengundang kita untuk ikut menjadi tamu dalam dunianya yang ajaib. Akhir kata, be our guest.

Sutradara: Bill Condon

Penulis Naskah: Stephen Chbosky (screenplay), Evan Spiliotopoulos (screenplay)

Durasi: 2 Jam 9 Menit

Pemain: Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans

Rating: 4/5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s