Debut Indah Pembuktian Diri Eva Celia

Hari terakhir Java Jazz Festival 2017, deretan musisi yang tampil begitu menarik. Dari mulai musisi indie seperti Barasuara, Endah n Rhesa, dan Mocca. Hingga musisi bercorak jazz seperti Incognito, Monita Tahalea, Sergio Mendes, Dee Dee Bridgewater, dan Eva Celia. Diisi nama-nama bintang luar biasa, membuat hari terakhir JJF ini sangat berkesan. Terlepas dari kewajiban untuk kembali ke kampus esok hari, saya setia menunggu hingga larut untuk menonton musisi-musisi tersebut. Eva Celia menjadi nama yang paling saya tunggu penampilannya.

e1

Mendengar Eva Celia, pasti akan langsung teringat pada musisi Indra Lesmana, sang ayah. Bagai peribahasa “buah tak jatuh jauh dari pohonnya,” Eva mengikuti jejak sang ayah yang merupakan legenda hidup jazz Indonesia, untuk berkarier di dunia jazz. Setelah merilis albumnnya pada November 2016 lalu, penampilannya di Java Jazz ini merupakan penampilan pertamanya membawakan seluruh lagu dalam albumnya yang berjudul And So It Begins.

Bertempat di hall C2, saat itu penonton yang datang memang tak terlalu penuh. Di panggung berukuran sedang, terlihat Eva sedang melakukan sendiri check soundnya. Satu hal yang jarang dilakukan oleh banyak penyanyi. Setelah melakukan check sound, Eva pun kembali masuk ke dalam untuk bersiap. Acara segera akan dimulai. Setelah lampu dimatikan, sambil mengalun intro dari lagu pertama yang akan ia bawakan, mulai bermunculan sosok tak asing dari arah backstage. Sophia Latjuba, Ariel “Noah”, Tara Basro, Tulus, Yura Yunita, satu per satu keluar untuk menonton penampilan Eva.

e2

Eva kemudian muncul dengan menggunakan terusan hitam panjang, dengan membawa gitar. Kemudian mengalunlah lagu pertamanya, Interlude: A Strange King of Longing dan Mother Wound. Interlude manis untuk membuka malam yang cerah itu.

Awalnya saya duduk di baris kedua, namun setelah kurang lebih ¼ lagu berjalan, entah mengapa saya tertarik untuk maju dan duduk tepat di depan panggung. Penampilan Eva begitu atraktif. Sambil memainkan gitarnya ia memang tak banyak bergerak, namun bahasa tubuhnya terlihat sangat nyaman dan menikmati penampilannya tersebut. Eva terlihat masuk ke dalam lagu, menari-nari sedikit, sambil sesekali ketika masuk bagian instrumen ia akan bergerak mendekati anggota bandnya sambil menari menggoda. Sangat menyenangkan!

e3

Album pembuktian diri

Album perdana bertajuk And So It Begins yang Eva tampilkan ternyata memiliki beragam cerita menarik di balik pembuatannya. Memiliki darah musik yang deras dari ayah, ibu, kakek (Jack Lesmana), dan nenek (Nien Lesmana) tentu saja membuat pengaruh tersendiri bagi Eva. Berkarier di dunia musik akan sangat mudah bagi dirinya mengingat nama-nama tersebut adalah nama yang sangat besar di belantara musik Indonesia. Namun ternyata Eva malah memilih berjuang sendiri membangun kariernya dengan tak melibatkan campur tangan berlebihan dari siapa pun.

Ia menulis dan membuat musik untuk semua lagunya sendirian. Proses produksinya sendiri melibatkan banyak orang, yang dipilih langsung olehnya. Ayahnya memang membantu, tapi Eva tetap nahkoda utama. Ia memproduseri sendiri albumnya ini. Eva berusaha untuk membuktikan diri bahwa dirinya lebih dari seorang dengan nama “Lesmana”.

Sering mengikuti sang ayah manggung sejak kecil, membuat Eva cukup familiar dengan dunia musik. Dilatih sejak kecil untuk bermusik, membuat Eva akhirnya berhasil memproduksi sebuah album debut di usinya yang ke 24 ini. Album dengan 8 lagu ini ditulis semuanya dengan bahasa Inggris. Eva memang kesulitan untuk mengekspresikan perasaannya dalam bahasa Indonesia. Apalagi album ini berisi curahan hatinya dan perspektif dirinya mengenai banyak hal.

Eva menggunakan album ini untuk mencurahkan isi hatinya mengenai beragam hal yang terjadi di media akhir-akhir ini. Pembakaran hutan, ilegal logging, korupsi, memantik rasa peduli Eva untuk turut menyampaikan pendapatnya, dengan cara yang elegan. Contohnya adalah lagu Let Love Grow. Tajam, lugas, sekaligus lembut dan hangat.

Hal tersebut juga terlihat pemilihan cover album. Warna pastel yang lembut, sentuhan biru, putih, dan pink. Ditambah dengan potret ilustrasi dirinya di tengah cover, seakan mengatakan bahwa album ini adalah album miliknya, dengan karakteristik lembut, hangat, tapi tetap tegas.

Album perdananya ini memiliki corak lagu yang hampir senada. Alunan melodi lembut, bisikan suara Eva yang hati-hati, nada yang hangat, plus lirik yang tegas bersatu menjadi satu kesatuan indah yang membuat pendengarnya sanggup menari walau pun tak tahu apa arti lagunya. Buat saya itu adalah kunci terbaik sebuah lagu untuk bisa didefinisikan sebagai sebuah keberhasilan.

And So It Begins berhasil menunjukkan bahwa jazz kontemporer juga berkelas, dan tidak merusak arti jazz sebenarnya. Album ini bercorak chill, RnB, soul, pop, dengan payung utama jazz, mampu memberikan corak warna unik, yang membuat saya bisa terus mengulangnya berkali-kali saat sedang santai di sore hari.

e4

Aransemennya pun menarik. Enak diputar versi orisinal, mau pun didengarkan saat live, tak banyak perbedaan. Jarang saya menemukan lagu, apalagi full album yang sama-sama enak ketika dimainkan baik live mau pun orisinal dengan aransemen yang sama. Seringkali penyanyi mengubah aransemen sedikit banyak saat pertunjukan live. Hal itu tak terjadi dengan album ini. Eva sama sekali tak mengubah aransemennya. Pemain musik diberi kesempatan bermain solo dalam album maupun live, dan saling berhubungan satu sama lain dengan cara yang indah.

Eva berhasil mengeksplorasi jazz dengan sangat luar biasa. Apalagi saat ini jazz dibilang tak terlalu laku lagi, dan mulai bermunculan musisi jazz pop kontemporer, sebut saja Monita Tahalea yang warna musiknya hampir sejenis dengan Eva.

Untuk sebuah album perdana, bagi saya Eva sangat-sangat berhasil. Tinggal menunggu saja karya apa yang akan ia keluarkan selanjutnya. Tapi yang pasti, setelah malam itu di hall C2 Java Jazz Festival 2017, Eva Celia resmi jadi salah satu penyanyi wanita aliran jazz favorit saya.

 

 

And So It Begins

e5

And So It Begins

Reasons

Romans (12:2)

Interlude: A Strange of Longing

Another You

Mother Wound

Against Time

Let Love Grow

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s