Waspada! Paham Nasisme itu Berbahaya!

Kantin paling ramai kalau sudah masuk jam makan siang. Buat jalan aja susah, jangankan untuk pesan makanan atau duduk. Kalau udah gitu, saya paling malas untuk makan di sana. Biasanya alternatifnya adalah nunda makan sampai jam 1an.

Tapi hal itu enggak seberapa jika dibandingkan harus ngajak teman saya, sebut saja si Mawar, makan siang. Kalau mau ngajak dia makan, enggak perlu nanya mau makan apa. Pasti jawabnya, “Gue harus makan nasi kalo siang. Jadi cari nasi ya,” gitu katanya. Dan itu paling males buat saya karena sejujurnya mencari makanan enak dengan nasi di Jatinangor itu tidak semudah yang dibayangkan kawan-kawan. Hanya beberapa tempat makan yang punya menu nasi enak dan tidak rame.

Kesukaan si Mawar makan nasi tiap makan siang ini bikin saya bertanya-tanya. Emang kenapa sih harus banget makan nasi. Pas saya tanya gitu, dia jawab kalo seharian itu dia harus makan nasi dan waktu yang paling enak buat makan nasi itu yang siang hari. Lama saya mikir, dan akhirnya saya mendapatkan teori bahwa paham nasisme itu benar-benar ada!

Paham nasisme apaan tuh? Apakah bersaudara dengan narsisme? Atau cuman plesetan dari narsisme? Jadi kawan-kawan sekalian, paham nasisme adalah paham dimana penganutnya memiliki keinginan atau merasa wajib untuk makan nasi setiap hari. Kalian mungkin akan nganggap paham nasisme ini aneh. Tapi jangan salah, paham nasisme adalah salah satu paham terkuat di Indonesia!

Sejak kecil kalian pasti pernah dengar istilah “belum makan namanya kalau enggak makan nasi.” Betul kawan-kawan, kalau dalam sehari kita enggak makan nasi sering ngerasa aneh atau bahkan lapar terus. Nasi jadi makanan wajib minimal sekali sehari. Hal tersebut juga menjangkiti banyak teman saya di Fikom. Sebut saja Tias, Indah, Joko, dan Dodi. Mereka enggak bisa kenyang kalau dalam hari itu belum makan nasi. Bahkan di Indah harus makan nasi tiga kali sehari, kebiasaan dari kecil katanya. Pun saat saya mengunjungi kantin di sekitaran Jatinangor, tempat makan yang ada nasinya akan lebih rame dibandingkan kedai bakso atau apa pun yang enggak menyediakan nasi.

Padahal usut punya usut, nasi itu ternyata penyebab diabetes juga. Dr. Kartono Muhammad mengatakan, nasi putih merupakan makanan yang memberi sumbangan paling besar dibanding jenis makanan lain untuk penyakit diabetes atau biasa dikenal kencing manis. (lihat http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/14/10/22/ndufin-nasi-putih-penyebab-terbesar-penyakit-diabetes). Nasi putih memang punya kandungan glukosa yang cukup tinggi.

Selain itu, konsumsi nasi berlebih oleh masyarakat Indonesia juga membuat Indonesia sulit untuk menjadi eksportir beras terbesar di dunia. Menurut Walikota Depok, Jawa Barat Dr. Ir. H. Nur Mahmudi Isma’il, M.Sc, sekitar 78% masyarakat Indonesia tergantung pada padi. Padahal Indonesia adalah salah satu negara dengan hasil panen padi terbanyak di dunia. (lihat http://health.liputan6.com/read/521271/orang-indonesia-terlalu-berlebihan-kalau-makan-nasi). Bahkan data dari Badan Pusat Stastistik (BPS) pada 2015 menyatakan, konsumsi beras masyarakat Indonesia mencapai 114 kg/kapita/tahun atau sekitar 312 g/kapita/hari.

“Bayangkan, kalau orang Indonesia konsumsi hanya 70 kg per kapita per tahunnya, Indonesia akan langsung secara spontan menjadi eksportir terbesar di dunia dengan suplay antara 15 sampai 18 juta ton tiap tahunnya. Dengan begitu, maka Indonesia dapat membantu 900 juta orang di dunia yang kelaparan,” ujar Mahmudi.

Padahal sumber karbohidrat selain nasi masih banyak yang jauh lebih sehat dan murah. Misalnya jagung, singkong, dan umbi-umbian. Bahkan sumber-sumber karbohidrat tersebut jauh lebih dulu dikonsumsi oleh nenek moyang kita, bukan nasi. Misalnya singkong, yang merupakan sumber kabohidrat kompleks dengan nilai GI rendah yaitu di bawah 55.  Untuk 100 gram singkong terkandung kalori 121 kkal, air 62.5 gram, Fosfor 40 gram, Karbohidrat 34 gram, Kalsium 33 miligram, Vitamin C 30 miligram, Protein 1.2 gram, Besi 0.7 miligram, Lemak 0.3 gram lemak dan Vitamin B1 0.01 miligram (lihat: http://www.kompasiana.com/miramarsellia/kenapa-harus-makan-nasi_54f33cc67455139e2b6c6d2b).

Apalagi jumlah kebutuhan karbohidrat dalam tubuh tidak harus disuplai oleh nasi. Mengganti sumber karbohidrat bukan berarti mengurangi asupan karbohidrat. Jumlah kebutuhan karbohidrat bagi tubuh adalah sekitar 50 hingga 60 persen dari total kebutuhan tubuh per harinya. (liha: http://health.kompas.com/read/2015/05/05/071800323/Kita.Tidak.Harus.Makan.Nasi.Tiga.Kali.Sehari).

Jadi sebenarnya dengan mencukup kebutuhan itu saja, sudah cukup tanpa harus mengonsumsi nasi. Kalau menurut saya sih, dorongan untuk harus makan nasi setiap hari cuman dorongan psikologis aja. Kalau belum makan nasi belum kenyang yang sudah ditanamkan orang tua dari zaman dahulu kala. Buktinya orang timur sana makanan pokoknya adalah sagu dan singkong, tapi enggak pernah bermasalah. Jadi, sebenarnya menurut saya paham nasisme itu enggak perlu kita pertahankan. Selain bikin kita tambah sehat dengan mengonsumsi sumber karbohidrat lain yang kaya serat, kita juga bisa bantu Indonesia untuk jadi eksportir beras terbesar di dunia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s