Pilkada Banten 2017; Ajang Pencekraman Lebih Dalam Dinasti Atut

Pilkada serentak 2017 akan dilaksanakan dalam beberapa hari ini. Tepatnya tanggal 15 Februari, 101 daerah di Indonesia akan memilih pemimpinnya untuk jangka waktu 5 tahun ke depan. Satu pertanyaan yang selalu muncul di masa seperti ini, “Mau milih siapa?” Karena saya orang Banten, maka pilkada Banten buat saya cukup menarik untuk diikuti.

Ada dua pasangan calon dalam pilkada Banten. Wahidin Halim-Andhika Hazrumy dan Rano Karno-Embay Mulya Syarif. Pertama kali Wahidin Halim mengatakan bahwa ia akan maju menjadi Gubernur Banten, saya dengan mantapnya mendukung. Sebagai warga Tangerang yang pernah dipimpin WH, sapaan akrab Wahidin Halim, saya tahu apa yang telah beliau lakukan untuk Tangerang. Bagaimana Tangerang menjadi semakin berkembang selama 2 periode kepemimpinannya.

Namun ketika saya tahu ia berpasangan dengan Andhika Hazrumy, seketika saya ragu. Andhika yang notabene adalah putra dari Ratu Atut Chosiyah, penggagas dinasti politik Banten, membuat saya ragu akankah ia bisa lepas dari bayang-bayang kasus sang ibu dan rekam jejak keluarganya yang banyak bercokol di berbagai sektor pemerintahan.

Awalnya saya tak mengerti mengapa WH mau dipasangkan dengan Andhika.  Tapi lalu saya sadar, kalau Andhika punya pengaruh sangat kuat di Banten, terima kasih kepada kekuatan dinasti ibunya. Lupakan Tangerang yang kecil. WH memiliki sedikit kans untuk menang jika tak berpasangan dengan Andhika. Bagian Banten lainnya punya keterikatan sangat kuat dengan dinasti politik Atut.

Berbicara tentang dinasti politik sendiri, memang tak bisa dipisahkan begitu saja dari Banten. Menurut Koordinator Bantuan Hukum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Julius Ibrani, dinasti politik Banten dinilai masih menjadi yang terkuat di Indonesia (lihat http://nasional.kompas.com/read/2017/01/04/06420791/politik.dinasti.di.banten.dinilai.masih.kuat). Selain Andhika, masih banyak anggota keluarga Atut yang menduduki posisi penting di pemerintahan Banten.  Airin Rachmi Diany, adik ipar Atut, adalah walikota Tangerang Selatan. Wali Kota Serang Tubagus Haerul Jaman, adalah adik tiri Atut. Ada juga Tanto Warsono Abran, Wakil Bupati Pandeglang yang adalah menantu Atut. Dan masih banyak lagi anggota keluarga Atut yang terlibat dalam ranah legislatif, eksekutif, atau jabatan publik di pemerintahan Banten.

Keraguan saya terhadap Andhika bukan tanpa dasar, banyak hal buruk terjadi ketika sebuah dinasti politik berkuasa. Masalah terbesarnya adalah korupsi. Contohnya kasus korupsi yang menjerat Bupati Klaten Sri Hartini. Sri Hartini adalah istri dari Bupati Klaten sebelumnya, Haryanto.

Menurut Apung Widadi, Koordinator Advokasi dan Investigasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), dari dinasti politik ada enam potensi sumber dana agar dinasti tersebut tetap berkuasa. APBD, izin usaha, tender barang dan jasa, birokrasi, akses ekonomi, serta organisasi budaya dan sosial. (lihat http://nasional.kompas.com/read/2017/01/03/21500331/politik.dinasti.dinilai.sebagai.salah.satu.pintu.masuk.korupsi). Dengan banyaknya kemudahan akses, membuat mereka dari dinasti politik semakin nyaman untuk melakukan hal-hal yang melanggar hukum. Akan sulit menentukan sikap profesional antar kerabat dan keluarga.

Tak hanya masalah korupsi, dengan berlanjutnya dinasti politik di suatu daerah, akan membuat daerah tersebut sulit maju. Coba bayangkan, jika yang berkuasa masih berkerabat dalam satu dinasti politik, dari periode ke periode program yang diusung akan sama saja. Melanjutkan apa yang dilakukan oleh pendahulunya untuk mempertahankan akar kekuatan dinasti. Memastikan pengelolaan pemerintahan daerah tetap berjalan seperti awal mula. Kalau seperti itu, kapan daerah tersebut bisa maju?

Dinasti politik sendiri bisa bertahan selama ini apa alasannya? Sebenarnya sederhana saja, tingkat familiar dan popularitas. Menurut Almas Sjafrina, Peneliti Divisi Korupsi Politik Indonesian Corruption Watch (ICW), masyarakat awam akan percaya terhadap satu figur yang sudah mereka kenal sejak lama, sejak awal. Dan cenderung akan memilih karena kekerabatan (lihat http://nasional.kompas.com/read/2017/01/13/12583761/kasus.korupsi.di.klaten.dan.banten.dianggap.contoh.sempurna.dinasti.politik). Misalnya ketika Atut menjadi Gubernur Banten, kerabatnya banyak yang terpilih menjadi kepala daerah atau jabatan legislatif dan eksekutif lainnya, karena masyarakat mengenal mereka sebagai kerabat Atut.

Karena itulah saya ragu memilih paslon 1. Lalu jika berangkat dari keraguan saya karena dinasti politik Andhika Hazrumy, maka apakah saya harus memilih nomor 2? Rano Karno-Embay “tidak” terlibat dengan dinasti politik Atut. Jadi, nomor 2 merupakan pilihan yang aman bukan? Apalagi dengan terpilihnya Rano Karno, ada kemungkinan dinasti politik Atut akan semakin melemah.

Tapi entah mengapa saya tetap ragu. Bukan masalah korupsi atau dinasti politik lagi. Tapi pengalaman. Dengan Rano Karno yang sempat memimpin Banten selepas ditangkapnya Atut, saya sempat mengamati cara memimpin Rano. Dan buat saya tak ada perbedaan signifikan antara Atut dan Rano. Kebijakannya sebagian besar hanya melanjutkan apa yang telah ia dan Atut lakukan sebelumnya. Saya merasa tak akan ada kemajuan signifikan jika Rano berhasil naik.

Jadi buat saya untuk pilkada kali ini saya harus golput. Saya merasa bahwa Andhika tak akan lebih dari sekadar boneka yang akan digerakkan oleh dinastinya dalam rangka mempertahankan kekuasaan di Banten. Sementara Rano, belum terlihat apa yang istimewa darinya untuk bisa memajukan Banten. Tak ada calon yang bisa meyakinkan saya agar memilih mereka.

Maka dari itu untuk saat ini golput sendiri menjadi pilihan paling masuk akal dalam pilkada kali ini. Tak perlu bingung membandingkan kelebihan dan kekurangan antar calon. Tak perlu juga merasa bertanggung jawab jika nantinya pasangan yang terpilih ternyata gagal total. Tapi jika golput, satu yang harus saya ingat, saya tidak boleh mengeluh terhadap kebijakan yang nantinya diambil gubernur terpilih. Toh saya enggak milih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s