Belajar tentang Keluarga lewat Dangal

Sutradara: Nitesh Tiwari

Musik: Pritam Chakraborty

Sinematografi: Satyajit Pande

Penulis Naskah: Piyush Gupta, Shreyas Jain, Nikhil Mehrotra, Nitesh Tiwari

Durasi: 2 jam 49 menit

Pemain: Aamir Khan, Sakshi Tanwar, Fatima Sana Shaikh

Rating: 4,5/5

Film biografi selalu menarik untuk disimak. Apalagi film biografi atlet, dengan beragam aksi olahraga yang memikat. Suatu ketika, saya sedang surfing di internet, mencari referensi film-film menggugah hati. Tiba-tiba muncul satu judul yang menarik hati saya, “Dangal”. Film India, saya selalu tertarik dengan film Bollywood. Menarik dan unik untuk disimak, dengan unsur budaya yang kental. Saya coba tonton trailer film tersebut, dan terbukti saya jatuh cinta pada trailernya saja.

Dangal yang dalam bahasa Inggris artinya adalah “Wrestlling”, adalah film biografi mantan atlet gulat India Mahavir Singh Phogat (Aamir Khan) yang ketika muda pernah menjadi juara nasional. Dia tidak melanjutkan karirnya ke tingkat internasional, namun menginginkan anak laki-lakinya kelak mampu meneruskan mimpinya. Sayangnya, dari ketiga anaknya, tidak ada satu pun yang berjenis kelamin laki-laki. Sempat putus asa, akhirnya Mahavir memutuskan untuk melatih kedua anak perempuannya, Geeta Phogat (Fatima Sana Shaikh) dan Babita Kumari (Sanya Malhotra) untuk bisa meneruskan mimpi Mahavir meraih medali emas internasional.

Dangal adalah film keluarga yang memiliki porsi pas di setiap aspek lapisannya. Unsur drama keluarga menyentuh dengan banyak pelajaran, pun gambaran keadaan sehari-hari terekan secara sempurna dalam film berdurasi lebih dari 2 jam ini. Unsur yang paling saya sukai adalah bagaimana Dangal mampu menyampaikan pesan kehidupan tentang keluarga dengan cara yang tak tertebak. Film India memang seringkali mempunyai jalan cerita yang unik.

Pesan pertama yang saya dapat adalah bahwa orangtua tak selamanya benar. Dalam perspektif orang tua, membimbing dan mendorong anak untuk bisa meraih masa depan yang baik dan mengembangkan bakatnya adalah suatu keharusan. Terkadang karena hal itulah orang tua merasa paling benar, dengan mengganggap bahwa anaknya hanyalah anak bau kencur yang tak mengerti apa yang mereka butuhkan. Pun begitu dengan Mahavir yang ditunjukan memiliki kepribadian keras.

haanikaarak-bapu-hd-video-song-720p-dangal-movie

Dengan sistem otoriter melatih anak-anaknya, terkesan tak memberi kebebasan apa pun dan tak mau mendengarkan anak-anaknya atau siapa pun. Memaksa Geeta dan Babita untuk menjadi pegulat semata-mata karena mereka menang berkelahi melawan anak laki-laki. Mahavir terkesan memaksa mereka untuk mewujudkan mimpinya meraih medali emas internasional untuk India. Hal itu lah yang membuat Mahavir terkesan merasa paling benar dan paling tahu apa yang terbaik untuk anak-anaknya. Sikapnya itu akhirnya berujung pada muaknya Geeta dan penurunan performanya dalam pertandingan gulat. Dalam hal ini terlihat bahwa terkadang orang tua perlu mendengarkan keinginan anak dan mengoreksi diri sendiri. Walaupun apa yang mereka inginkan hanyalah keberhasilan anak mereka.

Selain orang tua, pun anak tak selamanya benar. Jika dilihat melalui perspektif anak, seringkali saya merasa bahwa orang tua saya tidak mau mendengarkan keinginan saya atau ingin tahu apa yang saya butuhkan. Saya merasa saya yang paling benar, paling mengerti kehidupan, dan apa yang saya butuhkan. Tak jauh berbeda, Geeta yang muak dengan sistem ayahnya, memberontak dan menjalani hidup sesuai keinginannya. Dan tentu saja hal itu tidak berjalan lancar, kehidupan Geeta berantakan dengan masa depan yang tak jelas. Hal itu menunjukkan bahwa tak peduli bagaimana kita tak suka sistem orang tua, mereka hanya ingin kita menjadi yang terbaik dengan masa depan yang cerah.

dangal-2-jpg-image-784-410

Dangal mengajarkan kita, anak-anak, untuk bisa menghargai orangtua, bahwa apa pun yang mereka lakukan hanya untuk masa depan anaknya. Namun, dalam beberapa hal memang anak berhak untuk mengevaluasi dan bebas untuk memilih, masa depan apa yang mereka inginkan. Salah satu kunci dalam film ini adalah bagaimana Mahavir bisa melihat apa yang terbaik bagi anak-anaknya, walaupun anak-anaknya sendiri belum bisa melihat itu. Film ini mengajarkan lebih dari sekadar hubungan ayah dan anak yang naik turun, penuh pemaksaan atau pun dorongan. Film ini mengajarkan baik orangtua mau pun anak untuk bisa saling menghargai.

Pesan kedua yang juga pesan yang paling saya suka adalah endingnya. Spoiler alert, ketika babak final kejuaraan Commonwealth, Geeta bertanding melawan musuh bebuyutannya, Mahavir terkurung di gudang dan tak bisa mendampingi Geeta bertanding. Biasanya dalam film-film atau sinetron, bagaimana caranya sang orang tua pasti akan bisa keluar dan muncul secara dramatis di depan anaknya. Namun tidak dengan Dangal. Mahavir tetap terkurung di gudang sampai akhir pertandingan Geeta.

wrestling-drama-dangal-beats-bollywood-box-office-records__795442_

Dari situ kita tahu bahwa orang tua tidak akan selalu ada untuk kita. Kita tak bisa mengharapkan mereka untuk terus ada. Itu pesan yang paling saya suka, membuat saya lebih menghargai kehadiran orang tua saya.

Pada akhirnya Dangal berhasil mengalirkan pesan keluarga yang sangat kental pada khalayaknya. Dengan formula drama komedi keluarga yang tepat, membuat Dangal menjadi salah satu film India yang terbaik menurut saya. Bagi kalian yang ingin dibuat menangis dan rindu dengan orang tua, Dangal cocok untuk dijadikan selingan di sela rutinitas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s