Paradoks Chapter 2

Chapter 2: Seleksi

Sesampainya di staisun Hogsmeade, James, Sirius, dan Peter segera mencari kereta thestral. Sementara Nathan bergabung dengan anak kelas 1 menaiki perahu. Cuaca malam itu cukup cerah. Dengan banyak bintang di langit. Tidak terasa Nathan pun sampai di kastil setelah melalui danau hitam. Saat sedang berjalan menuju gerbang aula besar, tiba-tiba ia dikejutkan dengan seseorang menepuk pundaknya.

“Bagaimana perjalanan anda Mr. Mueller?” Profesor Dumbledore telah berdiri dibelakangnya dengan senyum yang lebar.

“Profesor Dumbledore sir, anda mengejutkan saya.” Sahut Nathan dengan terkejut.

Dumbledore pun mengajak Nathan untuk berbicara di tempat yang lebih private.

“Jadi bagaimana Harry, perjalananmu? Menyenangkan? Sudah bertemu orangtuamu?” tanya Dumbledore.

“Yaampun sir, mengapa anda memanggil saya dengan nama asli saya. Kalau ada yang dengar bagaimana?”

“Well, sorry Nathan. Maklum, orangtua, sudah biasa memanggil Harry soalnya hehehe” jawab Dumbledore sambil nyengir.

“Tidak apa-apa sir. Dan perjalanan saya menyenangkan sekali. Saya 1 kompartemen dengan para Marauders. Dan sudah bertemu ibu saya. Dan ternyata ada beberapa kejadian yang luar biasa menurut saya.”

“Hmm, baiklah Mr. Mueller. Sebaiknya anda bergegas kembali ke barisan. Nanti anda akan diseleksi, dan tenang saja, kau pasti akan masuk Gryffindor. Sudah aku atur. Dan aku permisi kalau begitu. Harus menyampaikan pidato penyambutan.” Dumbledore nyengir sambil berjalan menuju aula besar

Nathan pun segera kembali ke barisan kelas 1 untuk selanjutnya melalui seleksi yang akan diadakan di aula besar. Selama menunggu pintu aula besar dibuka, Nathan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dalam hati ia berpikir tentang hal-hal yang sudah terjadi dalam hidupnya. Kejadian yang menurutnya tidak masuk akal. Terutama setelah apa yang terjadi setelah ‘matinya’ ia di hutan terlarang.

Flashback POV

Setelah obrolannya dengan Dumbledore di ‘King’s Cross’ Harry memang terbangun kembali. Namun bukannya terbangun di hutan terlarang yang dikelilingi oleh para pelahap maut, ia malah terbangun di shrieking shacks. Merasa aneh dengan terbangunnya ia di shrieking shack, ia pun segera bangun dan berinisiatif melihat keadaan kastil. Dan betapa terkejutnya ia melihat keadaan kastil yang baik-baik saja. tidak hancur, tidak terbakar, dan tidak terlihat bekas peperangan. Makin merasa aneh, Harry pun bergegas berjalan menuju kantor kepala sekolah. Berharap menemukan sesuatu apapun sebagai petunjuk. Sesampainya ia di depan kantor, gargoyle batu memnta kata kunci untuk masuk ke kantor kepala sekolah. Setelah beberapa mencoba kata yang berbeda, Harry akhirnya dapat masuk ke dalam dengan menyebutkan ‘permen lemon’. Setelah menaiki tangga, Harry sontak langsung masuk saja kedalam kantor. Dan pemandangan yang ia lihat sungguh dapat membuat ia terkena serangan jantung. Di balik meja, terlihat Dumbledore duduk dengan tubuh yang sehat dan jauh lebih muda sedang merapikan berkas. Dumbledore terkejut dengan tebukanya pintu secara tiba-tiba.

“Errr, James? Kupikir kau terlalu cepat kembali untuk sekolah. Karna sekarang sepertinya masih bulan agustus? Apa yang kau lakukan disini kalau begitu?” Dumbledore keheranan

“Ha? James? Profesor Dumbledore? Anda nyata? Apa ini? sa.. saya bukan James. Saya Harry. Dan saya sangat bingung dengan apa yang terjadi sekarang ini.” Harry menjawab

Dumbledore yang juga kebingungan menyuruh Harry untuk duduk dan menceritakan kebingungannya. Harry pun menceritakan segalanya, dari mulai siapa ia, apa yang sudah ia lalui, siapa Voldemort, malam meninggalnya Dumbledore, sampai saat matinya ia di hutan terlarang.

Dumbledore yang mendengarnya sangat terkejut. Dan berkata bahwa semua yang Harry katakan belum ada yang terjadi, karena sekarang ini masih tahun 1975. Bahkan Harry pun belum lahir disini. Dan dengan usul Dumbledore, akhirnya mereka memutuskan untuk membuat Harry suatu identitas yang baru, untuk menjalani kehidupan di masa ini. Dumbledore yang sudah mengetahui masa depan, mempunyai ide untuk menghancurkan Voldemort sebelum kekuasaannya makin meluas dengan menggunakan hal-hal yang sudah diketahui Harry. Dengan harapan mereka bisa menghentikan perang sihir pertama sebelum itu dimulai.

Maka dari itu muncullah seorang Nathan Anthony Mueller. Seorang blasteran Jerman-Inggris. Penyihir darah campuran, yang bersekolah di Durmstrang, kemudia pindah ke Inggris karena ayahnya meninggal. Dumbledore membuat identitas yang baru ini dengan mantra fidelius, dengan dia sendiri sebagai pemegang rahasia. Maka dari itu tidak akan ada seorang punmengetahui kalau sebenarnya Nathan itu adalah Harry. Dan untuk mata Harry yang sebelumnya memakai kacamata, sekarang entah kenapa menjadi sembuh dan normal. Dan bekas luka petir yang ada di dahinya, masih ada dan terlihat jelas.

Dan karena saat ini liburan musim panas masih panjang, Harry terpaksa tinggal di Leaky Cauldron dengan menyewa sebuah kamar dengan menggunakan uang Dumbledore, karena di masa ini tentu saja Harry tidak punya uang sepeser pun. dan tongkat Holly Harry yang rusak pun ternyata bisa diperbaik dengan menggunakan Elder Wand milik Dumbledore. Namun Harry lebih memilih menggunakan tongkat Draco yang telah berhasil ia rebut, karena menurut Dumbledore akan sangat berbahaya jika menggunakan tongkat yang mempunyai inti sama dengan tongkat Voldemort.

End of flashback POV

Lamunan Harry pun berakhir ketika ia dikejutkan dengan dibukanya pintu aula besar yang berderit keras.

“Tolong bagi anak kelas 1 untuk berbaris dengan rapi dan berjalan menuju ke depan aula. Sementara itu Mr. Mueller mohon mengikuti di barisan paling belakang. Terimakasih.” Teriak McGonagal memberikan arahan.

Harry kontan segera mengikuti di barisan belakang anak kelas 1. Sambil merasa grogi karena akan berjalan melewati aula besar yang penuh. Pasti dirinya akan sangat diperhatikan. Ia memang tidak pernah suka perhatian yang berlebihan.

Benar saja, saat ia berjalan di aula besar, ia mendengar banyak bisik-bisik tentangnya. Siapa itu-apakah itu murid baru-wah ganteng sekali-itu siapa sih, rasanya aku belum pernah melihatnya-siapa dia, untuk murid kelas 1 badannya terlalu besar. Harry mencoba untuk tidak mendengarnya dan mencoba untuk berjalan lurus ke arah topi seleksi. Ia menunggu dengan sabar gilirannya, karena topi seleksi akan menyeleksi siswa tahun pertama terlebih dahulu. Barnes, Jonathan-Ravenclaw. Joffrey, Edward-Gryffindor. Morgan, Michelle-Hufflepuff. Avery, Katheryn-Slytherin. Ia sedikit mendengar nama-nama anak tahun pertama yang diseleksi. Sampai akhirnya tibalah gilirannya. Harry hanya bisa berharap hal ini cepat berlalu karena ia mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan yang ingin thau, bahkan beberapa ada pandangan yang gak menusuk. Namun bukannya namanya segera dipanggil oleh McGonagall, ia malah melihat Dumbledore berdiri terkesan ingin mengucapkan pidato. Harry hanya bisa melenguh keras.

“Selamat malam anak-anak. Selamat datang kembali. Seperti tahu-tahun sebelumnya, setelah acara seleksi anak kelas 1 akan langsung dilanjutkan makan malam. Namun sekarang ada yang berbeda. Karena sekarang kita kedatangan murid baru, pindahan, bernama Nathan Anthony Mueller.” Dumbledore berkata

Nathan yang dipanggil hanya bisa nyengir kikuk, ketika Dumbledore berjalan kearahnya.

“Mr. Mueller adalah pindahan dari Durmstrang, pindah ke Hogwarts karena ibunya tinggal disini. Dan akan melaksanakan seleksi asramanya sekarang. Silakan Mr. Mueller.” Dumbledore mempersilakan.

Nathan pun merjalan menuju topi seleksi, dan duduk. Saat si topi baru menyentuh kepalanya selama 1 detik, seketika ia berteriak GRYFFINDOR! Dan seketika itu pula aula besar menjadi riuh, terutama dari meja Gryffindor. Para anak perempuan mengikik centil dan bertepuk tangan dengan sangat bersemangat. Nathan yang bertubuh tinggi, berkulit putih, berambut hitam berantakan, bermata hijau ceerlang, dan berwajah amat sangat tampan inilah, yang pasti membuat cewek-cewek Gryffindor kesenangan.

Tanpa dipersilakan lagi, Nathan segera menuju meja Gryffindor untuk duduk. Dan dilihatnya James dan Sirius sudah melambaikan tangan mereka dengan semangat, menunjuk tempat duduk di sebelahnya yang kosong, memberi isyarat agar Nathan duduk di samping mereka.

“Baiklah, terimakasih Mr. Mueller. Dan menurut saya sekarang saatnya pesta. Hogwash!” sahut Dumbledore dengan lantang

Seketika meja dipenuhi makanan yang segera diperebutkan oleh para siswa yang kelaparan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s