Benni Setiawan: Film bukan Novel

Delia: Sebenernya kita masih bisa terus sama-sama ya? Tapi pasti banyak yang terluka, buat apa kita bahagia kalau banyak yang nangis?  Kamu dulu pernah bilang, jodoh itu Tuhan yang ngatur, tapi kita tak akan pernah tahu kehidupan kita dengan seseorang itu.

Rosid: Kita lihat saja nanti.

Itulah sedikit petikan dialog antara Rosid dan Delia, dalam adegan klimaks penutup film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta. Film fenomenal yang mengangkat cerita cinta beda agama karya sineas Benni Setiawan ini memang sempat berjaya ketika memborong sederetan penghargaan dalam Festival Film Indonesia 2010 termasuk penghargaan Film Terbaik dan Sutradara Terbaik.

180937

 

Benni Setiawan saat sedang diwawancarai di rumahnya di Bogor. Dalam wawancara selama kurang lebih satu jam itu Benni bercerita mengenai cerita di balik film-filmnya yang fenomenal dan film yang sedang ia buat.

Foto: Siti Masitoh

Benni Setiawan bukanlah nama baru di dunia perfilman. Ayah empat anak ini pada awal kariernya merupakan seorang aktor yang kemudian banting setir menjadi penulis skenario karena ajakan dari dosennya. Halimun, karya pertamanya menuai sukses dan menjadi salah satu pionir dalam bidang sinetron. Lewat karyanya itulah nama pria kelahiran Tasikmalaya, 28 September 1965 ini melambung dan semakin dikenal sebagai penulis skenario yang handal dan ahli dalam bidang pembuatan film adaptasi novel.

Film adaptasi novel memang menjadi hal yang menantang dalam industri film. Film adaptasi novel membutuhkan membutuhkan daya imajinasi yang luar biasa dan keahlian yang mumpuni karena memang tidak mudah menuangkan imajinasi novel ke dalam media audio visual dengan begitu teliti. Benni Setiawan adalah salah satu penulis skenario yang memang sudah terkenal dalam ranah pembuatan film adaptasi novel. Beberapa filmnya yang sukses diadaptasi dari novel best-seller dan sukses juga dalam skala komersil dan penghargaan.

Melalui karya-karyanya yang luar biasa, penulis lulusan sinematografi Intistut Kesenian Jakarta (IKJ) ini pun mendapatkan berbagai nominasi penghargaan. Salah satunya mendapatkan penulisan terbaik di film pertamanya, Bukan Cinta Biasa. Puncak kariernya adalah pada film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta. Film-filmnya memang hampir seluruhnya bergenre drama romantis dengan sedikit selipan komedi. Genre tersebut memang sudah melekat erat dengannya. Kolektor barang antik ini memang sudah jatuh cinta pada dunia film sejak kecil. Total ada 12 film yang telah ia buat sejak pertama kali terjun sebagai penulis skenario.

Berlokasi di kediamannya, Jalan Purnawarman Raya No. 2, Pakuan Hills, Bogor pada Minggu 15 Mei 2016, selama kurang lebih satu jam, Benni bercerita tentang kariernya, penulisan skenario yang baik, dan cerita di balik pembuatan beberapa filmnya.

Mengapa memilih film sebagai karier Anda?

Saya sudah suka film sejak kecil, dari situ saya melanjutkan pendidikan ke IKJ. Karena di IKJ itulah banyak tawaran untuk jadi orang belakang layar. Tapi waktu itu saya belum tertarik dan malah jadi aktor dulu. Sampai akhirnya ya ada tawaran untuk nulis skenario.

Bagaimana cerita masa awal pekerjaan Anda sebagai penulis skenario?

Sinetron pertama saya itu Keluarga Rahmat. Saya sempat cukup lama main disitu. Sinetron itu penulis skenarionya bu Tati Maryati, dosen saya. Beliau penulis skenario yang hebat. Lalu kebetulan waktu itu sedang kurang orang untuk mengerjakan sinetron itu dan bu Tati meminta saya untuk bantu jadi penulis skenario. Saya dianggap sudah ngerti tentang sinetronnya dan tahu teknisnya seperti apa. Saat nulis skenario sinetron itu malah jadi keterusan, seru aja. Lama-lama jadi menarik untuk menulis sebuah cerita. Setelah selesai sinetron itu, saya sempat nulis juga untuk sinetron lain seperti Sahabat Pilihan, Opera 3 Jaman, Rumah Kami, mini seri Halimun yang pemerannya Tio Pakusadewo sama Paramitha Rusady. Banyak pokoknya proyek yang saya jadi orang belakang layar.

Apakah sebelumnya Anda sudah ada latar belakang sebagai penulis?

Sebelumnya saya sama sekali enggak ada latar belakang jadi penulis. Tapi memang ada dasar menulis skenario dari kuliah itu kan diajarkan. Selebihnya saya belajar pelan-pelan sejak awal diajak bu Tati. Lama-lama saya merasa makin tertarik dan senang menulis skenario.

Dari mana Anda belajar menulis skenario?

Saya otodidak dan juga awalnya dari mata kuliah penulisan skenario. Sama sering membaca buku-buku.

Siapa yang paling berpengaruh dalam karier menulis Anda?

Bu Tati Maryati. Beliau orang hebat, orang pertama yang mengajak saya untuk ikut menulis skenario. Dari beliau saya banyak belajar. Apalagi saat kuliah dulu saya sering setor skenario kepada beliau, dan entah berapa puluh kali skenario saya beliau revisi. Sempat frustasi tapi saya juga jadi berpikir dan terus termotivasi untuk bikin cerita yang luar biasa.

Biasanya mencari ide cerita film dari mana?

Dari mana saja bisa. Saya waktu itu dapat ide cerita Bukan Cinta Biasa dari Steven Tyler, rocker terkenal yang anaknya banyak itu. Lalu saya kepikiran untuk bikin cerita seperti itu terjadi di Indonesia. Jadi namanya mencari ide bisa dari sekitar ya, entah sehari-hari, dari tokoh idola, atau dari fenomena unik.

Anda lebih mengutamakan premis unik tapi teknis biasa saja, atau premis biasa tapi teknis hebat?

Premis biasa. Menurut saya sebuah premis itu adalah inti cerita yang harus gampang dimengerti. Lalu untuk bikin film yang luar biasa ya sempurnakan di teknisnya. Contohnya Bukan Cinta Biasa, premisnya kan sederhana. “Kepikiran punya anak aja enggak.” Udah gitu aja, tapi pas pelaksanaannya ya harus maksimal, kembangkan ceritanya. Lalu 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta juga premisnya sederhana. “Cinta beda agama.” Setelah itu kembangkan, tambahkan teknis yang baik, jalan cerita dan konflik yang menarik. Jadi intinya sih premis yang biasa juga cukup.

Apa perbedaan antara menulis novel dengan menulis skenario film?

Jelas berbeda. Sangat jauh berbeda. Karena kan kalau penulis novel dia bisa berkreasi semaksimal mungkin, semau dia. Enggak ada yang membatasi imajinasinya. Entah mau bikin pesawat meledak, adegan di ruang angkasa. Terserah dia. Beda sama penulis skenario yang dalam menulis harus menyesuaikan dengan banyak aspek. Misalnya sutradara, produser, keinginan pasar, pembiayaan filmnya sendiri, dan teknis lainnya. Karena skenario itu bukan karya yang bisa berdiri sendiri. Dia harus bisa divisualisasikan dalam film. Skenario itu nantinya akan menjadi media audio visual. Jadi harus realistis juga dengan aspek lain yang mendukung. Kan enggak mungkin bikin adegan pesawat meledak tapi budget untuk bikinnya di visual enggak ada.

Lalu penulis novel juga jago merangkai kata-kata, bisa membangun imajinasi pembacanya lewat tulisan. Kalau penulis skenario kan penuangan imajinasinya harus bisa menjadi nyata dalam film enggak hanya di pikiran pembaca. Intinya sih sangat berbeda ya. Seorang penulis novel mungkin akan sulit untuk menjadi penulis skenario karena imajinasinya akan dibatasi oleh berbagai aspek. Begitu pula penulis skenario yang sulit untuk jadi penulis novel karena dia terbiasa menulis untuk divisualisasikan dalam film. Saya juga kalau diminta untuk nulis novel pasti enggak akan bisa.

Apa saja aspek yang harus dimiliki oleh seorang penulis skenario?

Pertama sih harus tahu menulis skenario itu kayak apa. Karena kalau enggak tahu ya percuma. Jangan sampai menulis untuk skenario tapi hasilnya kayak nulis novel. Lalu harus bisa menyesuaikan dengan berbagai aspek dalam pembuatan film. Dengan sutradaranya, produsernya. Itu yang paling utama karena dalam pembuatan film kan semua saling berkaitan. Kalau skenario kita udah bagus, tapi ternyata kata produsernya dananya enggak mendukung ya bagaimana. Terus juga harus sesuai dengan apa yang akan direalisasikan. Konsep awal filmnya kaya apa, lalu ya kita menulis sesuai konsep, enggak bisa imajinasi kita sendiri seperti layaknya novel.

Hambatan apa yang sering Anda alami selama menjadi penulis skenario?

Hambatannya mungkin dari kru lain yang pendapatnya beda. Agak muncul pertentangan biasanya dari produser. Waktu itu pas film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta saya sempat bertentangan masalah judul. Saya maunya judul asli novelnya aja. The Da Peci Code atau Rosid dan Delia. Itu kan lebih terkenal dan bagus. Tapi produser pengennya judul itu dan akhirnya terpaksa pakai judul itu. Hasilnya orang jadi banyak yang susah inget judul itu karena terlalu ribet. Lalu juga judul film terbaru saya Waalaikumussalam Paris. Itu kalau dibaca seperti film religi kan. Padahal kalau nonton filmnya enggak ada unsur religi yang terlalu berlebihan. Tadinya emang judulnya buka itu tapi Bonjour Ice. Tapi produser maunya itu yasudah dipakailah judul itu. Hasilnya kan banyak juga yang salah persepsi tentang film itu.

Sebagian besar film Anda mengadaptasi novel terkenal. Pengubahan cerita dari novel menjadi film pasti sangat sulit dan terkadang perlu dilakukan pengubahan cerita. Mengapa pengubahan cerita itu perlu?

Karena yang namanya novel kalau dituangkan semua ke dalam film pasti enggak mungkin. Terlalu banyak adegan yang mustahil untuk difilmkan. Entah dari budgetnya, teknisnya, atau pun menarik atau tidaknya. Jadi ya perubahan cerita itu pasti perlu. Misalnya saja adegan pesawat meledak, kan kalau di film bakal mahal banget. Atau mungkin dari segi ceritanya yang ada di novel akan kurang menarik kalau difilmkan. Karena berbicara film pasti berbicara komersial. Cerita film enggak boleh terlalu berat. Jadi kalau novelnya berat pasti harus diganti jadi lebih ringan dan menarik. Banyak juga novel yang terlalu tipis atau terlalu tebal. Kalau terlalu tipis misalnya film Madre kan itu dari kumpulan cerpen tebalnya 10 halaman. Saya harus menambahkan cerita supaya cerita itu bisa difilmkan. Seperti itu sih paling.

Bagaimana caranya agar film adaptasi tersebut masih bisa mewakili novelnya?

Itu sulit sih, karena kan film dan novel itu berbeda. Namanya mengadaptasi itu kita hanya mengambil inti ceritanya aja biasanya. Film saya yang diadaptasi dari novel juga seperti itu. Mengambil inti cerita si penulis, lalu nego juga apakah boleh kalau beberapa tokoh ada yang saya tambahkan atau hilangkan. Apakah boleh ceritanya diganti jadi kayak gitu. Karena yang menarik di novel belum tentu menarik di film.

Film pertama Anda Bukan Cinta Biasa, sukses membawa Anda menjadi pemenang kategori penulisan terbaik di FFI 2009. Bisa ceritakan proses pembuatannya?

Waktu itu saya setelah vakum cukup lama mulai coba bikin cerita lagi. Jadilah itu skenario Bukan Cinta Biasa. Setelah itu saya tawar-tawarin itu skenario ke banyak rumah produksi. Belum ada yang mau. Sampai akhirnya label Afgan tuh mau skenario itu dan kita kerja sama. Awalnya saya disuruh kerja sama kru lain, sutradara pilihan mereka. Saya enggak mau. Saya maunya jadi sutradara juga karena itu cerita saya, saya yang ngerti itu harus gimana. Akhirnya setelah nego, saya jadi sutradara dan penulisnya.

Proses produksi mulai, ambil lokasi di Bandung. Waktu itu hanya empat set total untuk film ini. Terus juga artisnya kan baru banget si Olivia Jensen waktu itu saya ketemu enggak sengaja di mall. Saya lihat mukanya mirip Wulan Guritno. Langsung aja saya tawarin untuk main. Awalnya enggak mau, tapi saya coba yakinkan dia dan ibunya sampai akhirnya mau dan ada pelatih akting dari Jakarta khusus saya kirimkan. Pemain lainnya juga diambil dari Bandung. Seperti anak-anak P Project, Ferdy Taher, Wulan Guritno, Tieke Priyatnakusumah.

Lalu setelah itu proses produksi, syuting dan lain-lain. Akhirnya jadilah film itu dan juri-juri FFI sempat terkejut saat tahu kalau film itu hanya diambil di empat set. Karena itulah saya menang penulisan terbaik. Cerita itu juga premisnya sederhana, tentang seorang rocker yang enggak pernah kepikiran punya anak terus tiba-tiba punya anak.

Salah satu film Anda 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta diangkat dari novel best seller dan berhasil memborong banyak penghargaan di FFI 2010. Bisa ceritakan proses pembuatannya?

Film ini kan diadaptasi dari dua novel Ben Sohib yang judulnya The Da Peci Code sama Rosid dan Delia. Saya dan Ben memang sudah bersahabat cukup lama dan tercetuslah untuk kerja sama dalam film. Awalnya saya juga sudah suka cerita ini. Premisnya unik. Cinta beda agama yang enggak melulu tentang cinta tapi juga ada komedinya.

Dalam film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta banyak jalan cerita yang diubah. Mengapa?

Karena dalam novelnya sendiri kan banyak unsur komedi dan kental sekali unsur Betawi. Saya hanya ingin membuat film ini menjadi lebih merakyat. Jadi saya kurangi unsur Betawi agar orang yang bukan dari Betawi juga bisa mengerti. Lalu komedinya juga enggak terlalu aneh dan saya bikin lebih mudah dimengerti. Unsur romantisnya juga saya perbanyak karena ini kan yang menjadi inti dari cerita ini.  Lalu untuk endingnya dalam novelnya sendiri kan bisa dibilang menggantung. Tidak jelas apa yang terjadi sama Rosid dan Delia. Nah itu memang harusnya ada novel kelanjutannya. Dalam film ini sendiri saya buat endingnya di atas panggung, mereka menari-nari, dengan lampu yang spotlight, panggung menutup. Awalnya produser pada enggak suka. Mereka bilang, “Ini kenapa kayak gini sih. Enggak jelas banget.” Tapi saya coba yakinkan kalau adegan ini tuh klimaksnya film ini. Adegan yang bikin hati nyesek dan penonton nangis. Saya yakinkan terus dan setelah proses editing akhirnya mereka nonton dan setuju dengan apa yang coba saya tuangkan lewat endingnya sendiri. Jadi memang perubahan-perubahan itu bukan untuk merusak cerita tapi untuk menyesuaikan dengan medium filmnya sendiri dan untuk menarik massa.

Film Anda Madre melakukan pengubahan terhadap cerita yang cukup signifikan, pengubahan fokus cerita. Mengapa?

Madre itu kan diangkat dari kumpulan cerita Dee yang tebalnya hanya 10 halaman. Saya mencari akal untuk bagaimana caranya kumpulan ini bisa jadi film. Saya konsultasi sama Dee, produser, dan kru lainnya bagusnya bagaimana. Akhirnya kami memutuskan untuk mengubah beberapa hal yang signifikan. Kalau untuk fokus ceritanya sendiri, memang kalau di cerita itu kan lebih tentang hubungan Tansen dan toko roti kakeknya itu. Tapi kalau cerita itu difilmkan menurut saya akan terlalu berat dan membosankan. Maksudnya jarang lah orang mau lihat cerita tentang seseorang dengan roti buatannya. Jadi saya alihkan ceritanya jadi fokus ke percintaannya. Karena kalau romantis itu menjual ya, jadi hanya itu saja sih maksudnya.

Film Anda Edensor diadaptasi dari novel yang luar biasa meledak di pasaran. Namun film ini dinilai kurang sukses karena hanya menampilan sebagian dari novelnya, atau bisa dibilang pre-Edensor. Tanggapan Anda?

Iya jadi kan saya waktu itu memang bekerja sama dengan Andrea Hirata untuk menuangkan Edensor menjadi film. Rencananya sudah sangat bagus, kami akan syuting di luar negeri untuk adegan-adegannya. Tapi ternyata banyak sekali masalah yang dihadapi. Utamanya adalah masalah di perizinan. Kalau luar negeri itu kan harus perizinan yang panjang dan ribet kalau mau syuting di sana. Dan enggak semua negara mengizinkan. Sementara adegan Edensor kan di banyak negara, jadi enggak mungkin kita syuting di semua negara itu. Budgetnya enggak ada juga. Karena perizinan itu kita harus nunggu lama, tertundanya juga lama proses syutingnya. Karena udah kelamaan nunggu, kehabisan waktu tuh. Akhirnya saya dan Andrea memutuskan untuk bikin film tentang apa yang terjadi antara Ikal dan Arai di Paris. Jadi lokasinya hanya Paris waktu itu.

Selain perizinan juga ada masalah dengan waktu kerja orang Paris. Kita kan pake kru enggak semua dari Indonesia. Beberapa orang kaya driver terus asisten gitu pasti ambil dari orang Paris. Mereka kan jam kerjanya enggak sama kayak kita. Kalau di Indonesia mau kerja sehari semalem asal masih mampu enggak masalah. Kalau mereka jam 5 sore aja udah minta dipulangin. Itu kan menghambat sekali. Sementara waktu kita udah mepet karena dikejar deadline dan udah ada kerja sama juga dengan Cinema 21 dan pihak lainnya. Jadi seperti itulah kenapa akhirnya filmnya kayak gitu.

Dalam hampir semua film Anda selalu menyelipkan unsur religi di dalamnya. Mengapa?

Mungkin bukan unsur religi ya tepatnya unsur moral. Saya ingin film saya mengandung pesan moral yang cukup signifikan dan bisa membawa manfaat bagi orang banyak. Karena pesan moral kan tidak hanya harus disampaikan oleh ustadz atau pemuka agama. Tapi bisa juga lewat kejadian dalam film, perkataan tokoh, siapa pun. Mungkin kalau dilihat film saya memang selalu ada unsur moral dan berkaitan dengan agama. Seperti cinta beda agama, pendidikan agama dalam keluarga. Namun saya menolak kalau dibilang pembuat film religi.

Anda menjadi penulis sekaligus sutradara di hampir semua film Anda. Mengapa?

Karena saya merasa lebih pede jika bekerja dengan menggunakan naskah buatan saya sendiri. Berbeda rasanya jika saya menggunakan naskah buatan orang lain. Akan banyak juga masalah yang muncul

Perbedaannya apa saja antara mebuat film dengan naskah buatan sendiri dan apa masalah yang pernah muncul?

Perbedaannya ya jika saya menulis naskah saya sendiri, saya sudah tahu film ini mau diapakan. Mau jadi seperti apa, gayanya kayak gimana karena saya yang buat. Untuk pengarahan dan penyesuaiannya juga lebih mudah. Kalau pakai naskah orang lain misalnya film Bangun Lagi Dong Lupus. Itu kan yang nulis naskahnya Hilman. Dari awal saya sudah bilang kalau Lupus itu udah kurang masuk di zaman sekarang. Udah bukan masanya lagi. Lebih baik diubah dan disesuaikan dengan gaya anak zaman sekarang. Tapi dia ngotot untuk pakai naskah aslinya seperti itu. Saya enggak bisa ngapa-ngapain lagi karena udah terlanjur kontrak dan enggak enak juga. Maka jadilah film Lupus seperti itu. Jadi ya memang lebih enak bikin film dengan naskah sendiri. Sudah tahu mau diapain dan masalah juga enggak akan terlalu banyak.

Sebagian besar film Anda mengangkat tema drama romantis. Mengapa?

Setiap orang film itu punya ciri khasnya masing-masing. Dan ciri khas saya dan style saya mungkin adalah drama romantis itu. Saya juga orangnya kalau bikin cerita mengalir aja, enggak suka pakai banyak teori dan persiapan aneh. Jadi kalau ingin bikin cerita ya bikin aja. Kadang tahu-tahu hasilnya drama romantis.

Ada niat untuk membuat film dengan genre lain?

Untuk genre lain sih sudah ada ya film saya yang Toba Dreams kan ada unsur action. Tapi kalau untuk bikin yang pure action atau horor gitu sih enggak kepikiran ya. Bukan gaya saya aja. Enggak ada rencana untuk bikin ke arah sana.

Apakah sebelum menulis skenario Anda melakukan riset dahulu?

Iya, karena riset itu paling penting dalam proses pembuatan film. Kalau kita ingin bikin film tanpa riset, sama aja bohong. Kita enggak tahu apa yang ingin kita gambarkan dalam film. Terus juga kalau filmnya mengandung sesuatu yang ilmiah. Seperti istilah kedokteran, ilmu fisika, yang enggak semua orang tahu. Psati harus riset dulu kan untuk tahu secara detil apa yang ingin kita ceritakan. Nama penyakit, nama penemuan, atau lainnya. Jangan sampai salah istilah dalam film kita. Riset sekarang mudah kok. Bisa lewat internet, enggak harus datang langsung ke tempatnya, enggak harus dateng ke perpustakaan untuk baca buku. Semuanya bisa lewat internet. Saya waktu bikin film Toba Dreams belum pernah sama sekali ke Danau Toba. Tapi saya coba googling tentang Danau Toba, riset tempat-tempatnya dan saya coba gambarkan di skenario saya. Pas mau syuting baru saya ke sana dan ternyata benar dengan apa yang saya gambarkan di skenario.

Apakah untuk menjadi penulis skenario yang baik berkaitan erat dengan kebiasaan membaca? Mengapa?

Iya sangat berkaitan. Karena dengan membaca kita bisa tahu apa yang ingin kita gambarkan. Pengetahuan kita juga bertambah mengenai apa yang ingin kita buat di film. Saya dari kecil sudah suka membaca. Rasanya beda kalau baca buku fisik, kita bisa membayangkan adegan dalam buku itu dengan begitu nyata dan akan lebih mudah menuangkannya ke dalam tulisan.

Tingkat minat baca di Indonesia ini sangat rendah. Tanggapan Anda?

Benar sekali itu. Memang sekarang ini gadget menggantikan peran buku. Kita bisa baca banyak buku lewat gadget, bisa tahu sesuatu dari video di internet, berita terkini. Sekarang memang sudah dunia gadget. Di satu sisi positif. Namun di sisi lain negatif karena banyak orang yang lebih memilih untuk membuka internetnya tanpa membaca buku karena merasa pengetahuannya sudah ia dapatkan semua di internet. Padahal kan enggak begitu. Namanya membaca buku fisik itu beda rasanya. Harusnya sih lebih ditingkatkan lagi di sekolah-sekolah tentang kebiasaan membaca. Di rumah juga orang tua membiasakan membaca buat anak-anaknya.

Saat ini ada rencana revisi UU tentang Perfilman. Tanggapan Anda?

Jujur saya kurang mengikuti isu ini ya. Saya bukan orang yang suka isu politik seperti ini jadi saya tidak tahu banyak.

Apa saja yang seharusnya diatur dalam revisi nanti?

Saya hanya ingin peraturannya nanti bisa menguntungkan insan perfilman. Misalnya hukum tentang pembajakan dan kuota film lokal yang sampai sekarang masih merugikan orang film.

Menurut Anda apa yang harus dilakukan untuk mencegah pembajakan selain peraturan pemerintah?

Menurut saya harus digalakkan juga sosialisasi kepada masyarakat tentang buruknya pembajakan. Karena pembajakkan itu enggak bisa dilawan, harus ditinggalkan oleh penggunanya. Kalau enggak ada yang beli berarti bisnis itu enggak jalan kan. Jadi harus disosialisasikan pada masyarakat kalau nonton film itu lebih enak di bioskop, lebih untung di bioskop dari pada kalau nonton di DVD bajakan. Dari situ aja karena kalau hanya dilawan lewat UU ya enggak akan hilang selama pelanggannya masih ada.

Pendapat Anda mengenai pendidikan film di Indonesia?

Untuk saat ini sih sudah lumayan meningkat dan bagus. Kalau dulu kan paling hanya ada IKJ yang khusus sekolah film. Kalau sekarang sudah banyak sekolah film. Jadi dari jumlah aja udah menunjukkan peningkatan.

Seberapa pentingkah pendidikan film di sekolah bagi Anda?

Penting tapi tidak mutlak. Untuk menjadi orang film itu kan tidak harus lewat pendidikan formal. Banyak kok orang film yang lahir dari pendidikan non film. Misalnya Joko Anwar, Salman Aristo. Tapi kalau dibilang penting ya penting. Karena dari sekolah film pasti dapat ilmu penting juga, seperti saya yang memang dari sekolah film dapat ilmunya juga beda.

Apa hal yang belum tercapai selama Anda menjadi penulis skenario?

Wah banyak sekali ya. Saya orangnya enggak bisa berhenti bermimpi. Jadi setiap saat itu punya mimpi yang berbeda dan terus menerus berubah dan bertambah. Jadi kalau ditanya apa yang belum kesampaian jawabannya banyak banget. Salah satunya mungkin saya ingin film saya ditonton 5 juta penonton.

Rencana Anda dalam waktu dekat ada proyek apa?

Saya ada proyek film tentang kontingen Garuda yang dikirim jadi bantuan untuk Palestina. Kemarin saya sempat riset ke Lebanon dan Israel untuk lihat kenyatannya. Ternyata jauh berbeda dengan apa yang saya bayangkan. Tidak rusak karena perang malah bagus sekali. Karena itu rencana saya jadi berubah tadinya mau bikin disana malah enggak bisa karena lokasinya berbeda dengan bayangan saya. Sekali lagi itu pentingnya riset. Di film ini nanti saya akan kerja sama Deddy Mizwar, dan akan syuting mungkin di daerah Nagreg. Itu aja sih sementara proyek terdekat saya yang sudah pasti akan jadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s