Trump Menang, Lalu Apa?

Kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden Amerika kemarin mengejutkan banyak orang. Hal ini menuai beragam reaksi dan kontroversi baik di masyarakat Amerika sendiri maupun dunia. Setelah diprediksi akan kalah dari Clinton, nyatanya Trump berhasil memimpin di hampir sepanjang proses pemilihan. Hal ini tentu saja mengundang beragam tanggapan dari berbagai pihak. Beberapa aktivis kampus dalam berbagai konsentrasi ada yang menganggap bahwa kemenangan Trump ini wajar karena berhasilnya strategi kampanye Trump. Namun ada juga yang menganggap bahwa sejak awal Trump bukanlah sebuah pilihan, apalagi dengan beragam wacana dalam kampanyenya yang dianggap mendiskreditkan beberapa kaum tertentu.

 

82

sumber gambar: http://qz.com/613643/this-is-really-happening-donald-trump-easily-wins-the-new-hampshire-primary/

Kemenangan Trump dalam pilpres ini bisa dianggap wajar karena dalam sebulan terakhir periode kampanye, strategi kampanye Trump terus meningkat dan membaik. Terutama semenjak ia menyerang Clinton dengan skandal emailnya. Menurut Muhammad Vikar Reza Abbas, anggota Badan Legislatif Mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, hal itu terjadi karena adanya perubahan dalam strategi kampanye pemilu Trump. “Wajar sih dia bisa menang. Di akhir-akhir menguat walau pun memang pada awal masa kampanye dan debat presiden, dia bisa dibilang gagal total.”

Sementara menurut Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengabdian Masyarakat Demokratis (LPPMD) Universitas Padjadjaran Aldo Fernando Nasir, kemenangan Trump ini memang sangat mengejutkan. Hal tersebut karena kampanye Trump yang menyebarkan wacana rasisme, anti-Islam, dan proteksionisme, mengobarkan perseteruan di kubu Republik. Aldo awalnya memprediksi jika Trump akan kalah di tangan Clinton. “Saya prediksikan kalah, bahkan sejumlah lembaga survey di AS menjagokan Hillary. Tapi memang banyak faktor yang bisa memutarbalikkan banyak hal dalam politik.”

Terpilihnya Trump ini menurut Aldo akan banyak mempengaruhi tatanan ekonomi-politik global. Sikapnya yang mudah berubah-ubah, terbukti dengan pernyataan tentang kaum minoritas yang sempat menghilang di situsnya namun beberapa kemudian muncul lagi, membuat banyak pihak merasa harus bersikap waspada. Banyak kebijakan-kebijakan yang diperkirakan akan mempengaruhi baik dalam segi politik mau pun ekonomi dunia.

“Perkara politik global sendiri, kedekatan Trump dengan Vladimir Putin, Presiden Rusia, membuat banyak analis politik melihat akan ada pembaruan hubungan politik antara dunia negara tersebut. Konsekuensinya pun beragam, baik positif mau pun negatif. Selain itu wacana Trump untuk membuat Amerika menjadi “polisi dunia” lagi, perang mata uang dengan Cina, menarik diri dari TPP, peninjauan ulang NAFTA, serta mengobarkan wacana anti-Islam, anti imigran, penolakan pembiayaan kegiatan penelitian mengenai perubahan iklim, dan arah kebijakan proteksionis yang tentu saja akan mempengaruhi kondisi politik dan ekonomi secara global,” ujar Aldo.

Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah wacana Trump yang terlihat ingin membuat Amerika meraih kembali kekuatan mereka sebagai negara Super Power. Peta perpolitikan antara Cina dan Amerika sangat menarik untuk disimak.

“Jika memang retorika Trump semasa kampanye benar terjadi, dengan beragam wacananya tentang anti imigran, anti Islam, dan minoritas, tentu saja hal tersebut akan berpengaruh besar terhadap tatanan politik dunia,” jelas Aldo.

Terlepas dari retorikanya selama kampanye yang mengundang beragam kontroversi, hal ini nyatanya berhasil menyokong perolehan suara Trump. Trump berhasil memainkan isu terorisme dan anti-Islam yang memang sudah populer di Amerika sejak beberapa waktu lalu. Trump pada dasarnya tahu bagaimana keadaan pasarnya, ia tahu siapa sasaran kampanyenya, dan ia memanfaatkan keadaan Amerika yang sudah seperti itu untuk memenangkan pertarungan presiden.

Sementara untuk kondisi politik Amerika sendiri setelah Trump resmi menjadi presiden, Aldo memprediksi bahwa banyak kebijakan Trump yang akan mengubah tatanan ekonomi negara. Terutama dengan partai Republik yang konservatif dan tidak suka pajak, diperkirakan pajak di Amerika akan jauh berkurang. Lalu juga permasalahan ekspor impor yang ditentang Trump.

Wacana dan kebijakan Trump yang sudah dikobarkan sejak awal kampanye mengenai kaum minoritas di Amerika menurut Aldo dan Vikar, tidak akan terjadi. Hal tersebut dianggap hanyalah sebuah strategi kampanye belaka. “Untuk masalah itu sih enggak mungkin terjadi, karena sudah ada kontitusi yang melindungi. Cara tersebut hanya untuk menarik simpati kaum konservatif. Karena saat ini tidak semua orang Amerika liberal,” jelas Vikar.

Walau begitu, hal tersebut tetap patut diperhatikan. Sekali pun hanya ujaran kampanye, Trump mampu memainkan isu terorisme dan anti-Islam untuk menyokong perolehan suaranya, dan nyatanya itu berhasil. “Sikap Trump ini berbahaya jka sampai diterapkan selama masa jabatannya. Saya mengritik posisi Trump ini sebagai pola pikir yang totaliter, dengan menendang keluar yang minoritas agar tidak mengotori tatanan mayoritas,” tegas Aldo.

Namun menurut beberapa pihak, retorika Trump yang seperti ini dianggap tidak pantas untuk dilakukan. Walau memang benar hal tersebut hanyalah sebuah teknik politik, seharusnya dilakukan tanpa menyudutkan atau merugikn kaum tertentu, khususnya kaum minoritas. Menurut Seyla Musi Indah, aktivis Islam di Universitas Padjadjaran, jika memang Trump benar-benar membenci kaum minoritas, seharusnya dia tetap bisa bersikap netral dan adil karena walau bagaimana pun kaum minoritas tetap warga negara Amerika.

Sikap Trump yang mengemukakan bahwa kaum minoritas dianggap mengambil lahan kerja kaum mayoritas. Belum lagi dengan alasan imigran ilegal. Trump dianggap menghakimi secara sepihak kaum minoritas. “Pengaruh terhadap kaum Muslim Amerika khususnya, tentu saja merugikan sekali. Segala kampanyenya Trump sejak awal selalu berbau mendiskreditkan kaum Muslim. Apalagi semenjak kejadian 9/11 Amerika dilanda Islamophobia. Bisa dibayangkan bagaimana sikap warga Amerika sendiri tentang hal itu ditambah kampanye Trump yang seperti itu,” terang Seyla.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s