Phantastic 2016: Workshop yang Salah Sasaran

Kementrian Media dan Informasi, BEM Kema Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran pada Jumat (4/11) kemarin melaksanakan sebuah workshop jurnalistik, fotografi, dan marketing media sosial. Acara bertajuk Phantastic ini dilaksanakan di Bale Santika, Universitas Padjadjaran Jatinangor. Workshop ini mengundang tiga pemateri yaitu Muhammad Rizky Hanan Putra dalam bidang marketing media sosial, Hermawan Wicaksono dalam bidang fotografi, dan Sahat Sahala Tua Saragih dalam bidang jurnalistik.

Phantastic dilaksanakan dalam dua rangkaian acara yang berbeda, yaitu pre-event dan pasca-event. Pre-event yang berupa kontes fotografi sudah dilaksanakan pada bulan September-Oktober kemarin. Sedangkan pasca-event berupa workshop kali ini. Workshop Phantastc ini sengaja mengangkat materi berupa marketing sosial media, fotografi, dan jurnalistik agar bisa memberi pengetahuan tentang bagaimana mengelola dan memasarkan bisnisnya melalui dunia digital.

“Kita sengaja bikin acara kayak gini supaya orang yang ingin berbisnis nanti tahu gimana cara memasarkan produknya di sosial media. Lalu fotografi itu diperlukan untuk tahu gimana caranya mengambil gambar untuk promosi yang baik. Sedangkan ilmu jurnalistik untuk membuat caption yang menarik,” ujar Wildan Rasyid Al Hafiz, ketua pelaksana Phantastic.

Bertajuk sebuah workshop, acara Phantastic kali ini sayangnya tidak seperti workshop pada umumnya. Workshop yang dalam bahasa Indonesia berarti loka karya, sebuah kegiatan yang sengaja diadakan sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang berasal dari latar belakang serumpun untuk memecahkan suatu permasalahan tertentu dengan jalan berdiskusi ataupun saling memberikan pendapat antar satu anggota dengan anggota lainnya. Namun pada kenyataannya pada acara Phantastic kemarin tidak ada satu pun kegiatan yang mencirikan bahwa kegiatan ini adalah sebuah workshop. Ada beberapa hal mengapa Phantastic bukanlah workshop.

Pertama dari segi materi. Materi-materi yang disampaikan melenceng jauh dari tujuan utama acara seperti yang dikatakan oleh ketua pelaksana. Ketiga materi memang ditujukan untuk memberikan pencerahan pada pebisnis muda yang ingin berbisnis melalui sosial media. Namun dua dari tiga materi yang disampaikan sama sekali tidak berisikan tentang bagaimana membuat caption yang menarik atau mengambil foto yang bagus. Acara ini seakan tidak memiliki fokus yang pasti. Mungkin panitia memang berniat untuk memberikan jenis ilmu yang beragam, namun sayangnya saya tak menemukan benang merah dalam acara ini. Apa sebenarnya garis sambung dari ketiga materi yang diusung. Apa tujuan utama dan keterkaitan dari ketiga materi ini.

Saya juga tidak bisa menemukan mengapa materi jurnalistik dan fotografi disampaikan pada acara ini. Untuk ilmu jurnalistik, jika mengutip pernyataan ketua pelaksana tentang kebutuhan ilmu jurnalistk agar peserta nantinya bisa membuat caption produk yang menarik untuk membuat produk lebih laku, hal itu sama sekali tidak relevan.

 

101

Sahala Tua Saragih ketika menyampaikan materi jurnalistik

Foto: Syifa Nuri .K

Misalnya saja dalam penyampaian materi jurnalistik, Abang Sahala (sapaan akrab Sahat Sahala) hanya memberikan pengantar tentang bagaimana cara mengasah tulisan. Tidak ada sama sekali materi tentang penulisan caption yang baik. Ilmu jurnalistik bukanlah sekadar ilmu membuat caption menarik tapi lebih dari itu, bagaimana membuat berita menjadi layak dibaca oleh orang lain. Jika memang tujuan utama memberika “workshop” jurnalistik adalah memberi tahu bagaimana membuat caption yang baik, sekalian saja undang seorang copy writer (pembuat caption di media sosial) yang jelas-jelas bekerja membuat caption.

Pun begitu dengan materi fotografi yang tak satu pun berisi tentang bagaimana mengambil gambar produk agar terlihat menarik. Materi fotografi yang disampaikan malah berkisar tentang jenis-jenis foto, apa itu fotografi, dan selebihnya penayangan hasil karya Hermawan sendiri. Sehingga saya merasa tujuan acara ini sama sekali tidak terlihat dalam materi yang disampaikan.

 

102

Hermawan Wicaksono ketika menyampaikan materi fotografi

Foto: Syifa Nuri .K

Ketidakfokusan materi ini membuat saya bingung mengambil kesimpulan. Tidak ada keterkaitan dari ketiga materi ini yang membuat saya tahu apa tema umum atau tujuan utama dari acara ini. Apalagi dengan melencengnya materi yang disampaikan dan tujuan acara sebenarnya, membuat saya merasa sia-sia datang ke sini.

Selain ketidakfokusan pemilihan materi, hal lainnya yang cukup mengganggu adalah terlalu dangkalnya ilmu yang disampaikan oleh para pemateri sehingga inti dari ilmunya sendiri tidak sampai pada penonton. Bagaimana bisa seorang pemateri memberikan pengetahuan yang cukup jka hanya diberi waktu 30 menit? Hal ini pun sudah mengundang komentar dari salah satu pemateri, Sahat Sahala Tua Saragih, yang berkata bahwa waktu 30 menit sangat sempit untuk bisa memberikan materi.

Waktu berjalannya workshop memang sangat sebentar. Di poster acara akan diadakan pada pukul 14.30 – 17.30. Waktu yang sempit bagi tiga pemateri untuk bisa memberikan “workshop”. Waktu yang sudah sempit itu pun makin sempit ketika acara mulai terlambat, acara baru mulai pada pukul 15.00. “Mungkin waktunya sih ya terlalu sempit. Saya jadi enggak dapet ilmunya secara lengkap gitu. Mungkin lain kali waktunya bisa diperlama,” ujar Rini, salah satu peserta.

Mungkin sebaiknya dalam kesempatan ke depan, panitia bisa menentukan apa tujuan dari acara yang mereka buat (maksud saya benar-benar goals utama dari sebuah acara). Dan juga jangan menggunakan kata “workshop” jika tidak ada satu pun kegiatan dalam acara tersebut yang mencirikan sebuah workshop.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s