A Monster Calls: Dongeng Fantastis Menguras Emosi

Tahun 2016 bisa dibilang sebagai tahun yang penuh dengan sajian film berisikan makhluk fantastis dan magis. Sebut saja Pete’s Dragon, The BFG, dan Fantastic Beasts and Where to Find Them. Salah satu film yang juga menjadi jagoan dalam genre ini adalah A Monster Calls.

 

Disadur dari novel berjudul sama karya Patrick Ness, A Monster Calls bersetting di Inggris, bercerita tentang seorang bocah 12 tahun bernama Conor O’Malley (Lewis MacDougal) yang berbeda dengan anak seumurannya. Ia sering dirundung di sekolahnya dan sering bermimpi buruk, di mana gereja dan pemakaman yang bisa ia lihat dari jendela kamarnya tersedot ke dalam tanah. Ditambah lagi dengan keadaan ibunya (Felicity Jones) yang menderita kanker stadium akhir. Conor yang seorang seniman dengan kemampuan luar biasa dalam menggambar, suatu malam ia dikunjungi oleh sebuah pohon besar dari pemakaman dekat rumahnya, yang bisa berdiri dan berbentuk menyeramkan serta terlihat hidup. Sang monster yang berjanji untuk selalu mengunjunginya tiap malam tepat pada pukul 12.07 untuk menceritakannya tiga cerita, membuat Conor agak sedikit terbebas dari penderitaannya. Namun dengan keadaan ibunya yang semakin parah, juga datangnya sang nenek (Sigourney Weaver) yang sangat tegas dan berusaha untuk “mengatur” kehidupan Conor dan sang ibu membuat Conor tidak suka.

Sang sutradara J. A. Bayona, dengan sukses menyeimbangkan gambaran fantastis dari drama kehidupan yang pahit dan serius, dengan cerita dongeng yang ajaib. Walaupun cerita dongeng itu termasuk gotik dan kelam, bisa dengan sukses memberikan rasa keajaiban tersendiri, mampu menarik penontonnya untuk ikut masuk ke dalam dunia dongeng. Tapi memang film ini agak gelap dan serius dan agak tidak cocok untuk ditonton oleh anak-anak. Terlebih lagi Bayona mampu membuat penonton menentukan sendiri di akhir cerita apakah sang monster itu asli atau kah hanya rekaan Conor saja. Bayona ikut mengajak penonton untuk masuk ke dalam cerita, menentukan perspektif mereka sendiri.

 

72

Sumber gambar: http://www.tiff.net/films/a-monster-calls

Sinematografi yang mumpuni juga ikut andil dalam membuat A Monster Calls sebagai salah satu film dongeng yang menarik. Oscar Faura, sang sinematografer, bisa merekam dan menyajikan sebuah potongan adegan dan memasukkan beragam emosi ke dalamnya. Dengan menggunakan penempatan kamera dan jarak antar adegan yang tepat dan halus, bisa membuat adegan sunyi antara Conor dan ibunya, atau Conor dan neneknya terasa memiliki beragam emosi tanpa harus menggunakan dialog tertentu.

Pengaturan sinematografi yang luar biasa juga membuat para pemainnya lebih bersinar. MacDougal yang memainkan film layar lebar pertamanya ini tampil dan terlihat begitu pas dengan sosok Conor. Conor yang digambarkan terlalu dewasa untuk disebut anak-anak dan terlalu muda untuk disebut dewasa, dengan sukses dibawakan oleh MacDougal. Semua adegan yang melibatkan emosi penuh amarah dan tangisan, dengan sukses bisa menulari penontonnya untuk ikut marah dan menangis juga.

Jangan lupakan pemain lainnya seperti Sigourney Weaver yang dengan tidak mengejutkan tampil dengan sempurna. Ia mampu merepresentasikan seorang wanita Inggris kolot. Felicity Jones juga, yang jika kita perhatikan hampir selalu muncul di semua film yang keluar musim liburan ini, tampil dengan begitu memukau. Terlepas durasinya yang terpakai sebagian besar hanya untuk terlihat sakit, ia mampu memberikan petuah-petuah dan arahan bagi Conor untuk menghadapi hidup dan bagaimana mengatasi rasa sakit. Liam Neeson yang menyuarakan sang monster juga menjadi sebuah kepingan puzzle yang penting, dengan memberikan suara yang menakutkan sekaligus menenangkan. Dua sisi yang berlainan namun saling berkaitan dalam film ini. Neeson memang sebuah pilihan yang tepat.

Walau begitu alur cerita A Monster Calls saya rasa agak terlalu cepat. Agak sulit untuk menyesuaikan laju cerita dengan pesan film. Walaupun memang pesannya tidak harus dicerna dengan terlalu berat, namun itu tetap agak mengganggu karena walau bagaimana pun alur yang terlalu cepat membuat film terasa berat dan membingungkan. Selain itu dalam beberapa adegan, musik latar dari Fernando Velazquez tidak terlalu membantu. Malah terkadang menutupi emosi dari adegan itu sendiri. Musik latar mengalahkan sinematografi yang akhirnya malah membuat emosi dari adegan tersebut tidak terasa.

 

73

Sumber gambar: http://www.tiff.net/films/a-monster-calls

Pada akhirnya film ini tetap sukses membuat saya menangis sedih pada bagian akhir. Jelas bahwa naskah milik Patrick Ness dan arahan dari Bayona yang membuat film ini memiliki nilai emosional yang dalam. Film ini mampu memberikan pesan bahwa kehilangan seseorang memang menyedihkan, namun hal tersebut adalah fakta kehidupan yang harus dihadapi. Kita bisa berduka di satu titik, dan bagaimana kita berduka bisa dalam berbagai cara.

Kemunculan sang monster selalu diwarnai dengan kesan menyeramkan, didukung oleh visual efek yang luar biasa tentu saja, terlepas dari efek suara Liam Neeson yang luar biasa. A Monster Calls memberikan kebijaksanaan dan kedalaman psikologis yang dengan sukses dinarasikan oleh semua elemen film. Film ini membalut semua ketakutan masa kecil, dongeng sebelum tidur yang dipenuhi monster dan juga ketakutan nyata yang menghantui.

A Monster Calls menawarkan sebuah drama yang berani untuk menyambut rasa duka tersebut melalui fantasi dan imajinasi kita sendiri. A Monster Calls sukses memberikan kesan seram namun emosional. A Monster Calls memang pantas masuk ke dalam jajaran film terbaik tahun ini.

8/10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s